Realisasikan Pemerataan PAUD untuk Wujudkan Wajib Belajar 13 Tahun

Data Centre for Strategic and International Studies (CSIS) per Agustus 2025 menunjukkan bahwa dari 82.000 desa di Indonesia. Sekitar 20.000 desa belum memiliki layanan PAUD.

Editor Nur
Senin, 18 Mei 2026 16.06 WIB
Realisasikan Pemerataan PAUD untuk Wujudkan Wajib Belajar 13 Tahun
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat

Jakarta (Lampost.co)—Penerapan kebijakan Wajib Belajar 13 tahun dengan menambahkan satu tahun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke dalam program wajib belajar nasional harus direalisasikan dengan sebaik-baiknya.

“Tantangan untuk mewujudkan Wajib Belajar 13 tahun sejak dini sangat besar, mengingat masih banyak daerah yang belum memiliki layanan PAUD. Kondisi ini harus segera dijawab dengan langkah nyata bersama,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/5).

Data Centre for Strategic and International Studies (CSIS) per Agustus 2025 menunjukkan bahwa dari 82.000 desa di Indonesia. Sekitar 20.000 desa belum memiliki layanan PAUD.

Selain itu, konsentrasi lembaga PAUD masih mendominasi oleh sektor swasta dan terkonsentrasi di wilayah perkotaan.

Lestari menegaskan, pemenuhan PAUD hingga ke pelosok desa bukan lagi sekadar program pelengkap. Melainkan kebutuhan mendesak.

“Stimulus pendidikan sejak dini sangat dibutuhkan untuk menanamkan fondasi belajar yang kuat bagi setiap anak bangsa. Agar mampu menjadi generasi penerus yang berdaya saing,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari.

Rerie mengakui untuk mengejar kecukupan jumlah PAUD dalam implementasi Wajib Belajar 13 tahun.

Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan program Satu Desa Satu PAUD yang terealisasikan bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.

Selain itu, ujar Rerie, pemerintah memperluas Program Indonesia Pintar (PIP) hingga ke jenjang PAUD mulai 2026.

Program ini menyasar anak-anak PAUD/TK dari keluarga tidak mampu dengan target awal 888.000 murid. Dan alokasi anggaran Rp400 miliar pada 2026.

Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI menyambut baik langkah pemerintah itu. Namun, dia mengingatkan pentingnya perencanaan yang cermat dalam penerapannya.

“Dengan beragamnya kondisi setiap daerah, butuh perencanaan dan identifikasi yang cermat untuk mewujudkan satu desa satu PAUD di Tanah Air,” ujarnya.

Sosialisasi Program yang Masif

Menurut Rerie, kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal sebagai tenaga pengajar dan perlunya sosialisasi program yang masif untuk membangun dukungan semua pihak, merupakan hal penting yang harus terwujud.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap, penyelenggaraan PAUD dapat tersebar merata dan mudah terakses masyarakat hingga desa-desa di tanah air.

“Kualitas anak dengan stimulasi pendidikan sejak dini akan jauh berbeda dengan anak yang tidak mendapat PAUD. Dengan fondasi belajar yang kuat sejak usia sedini mungkin, harapannya target Indonesia Emas 2045. Berupa bonus demografi, dapat terwujud,” pungkas Rerie.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI