Jakarta (lampost.co)–Rencana Pemerintah untuk mengembalikan sistem pembelajaran daring bagi siswa sekolah mulai April 2026 mendapat penolakan keras dari legislatif. Kebijakan itu bagian dari strategi nasional penghematan energi dan bahan bakar minyak (BBM) ini akan mencederai proses tumbuh kembang generasi bangsa.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, mengingatkan bahwa sistem pendidikan Indonesia masih berjuang memulihkan diri dari fenomena learning loss akibat pandemi Covid-19. Menurutnya, mengulang pola pembelajaran jarak jauh hanya demi efisiensi energi adalah langkah yang tidak bijaksana.
“Isu pembelajaran daring yang muncul di media massa perlu dipertimbangkan kembali secara mendalam. Kita semua tahu bahwa sistem ini menyisakan persoalan kompleks bagi dunia pendidikan kita,” tegas Esti, Selasa, 24 Maret 2026.
Esti menyoroti beberapa poin krusial yang menjadi taruhan jika sistem daring kembali :
-
Aspek Akademis: Terjadi penurunan kemampuan kognitif siswa secara signifikan. Hal ini tercermin pada skor PISA Indonesia tahun 2022 yang merosot di bidang literasi membaca (359), matematika (366), dan sains (383).
-
Pendidikan Karakter: Sulitnya menanamkan nilai-nilai afektif, kepribadian, dan kedisiplinan tanpa interaksi sosial langsung antara guru dan murid.
-
Dampak Sosial: Minimnya pengawasan memicu ketergantungan gawai, rasa malas, hingga meningkatnya angka pernikahan dini di kalangan pelajar.
Aspirasi Masyarakat
Legislator asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun aspirasi masyarakat yang masuk ke pihaknya menyatakan setuju dengan wacana belajar daring. Masyarakat merasa keberatan jika kualitas pendidikan menjadi korban demi menekan konsumsi BBM nasional.
Sebagai jalan keluar yang lebih kreatif, Komisi X DPR RI mengusulkan pemerintah untuk mempertimbangkan strategi lain:
-
Sistem Antar-Jemput: Memberdayakan angkutan umum sebagai mobil jemputan sekolah dengan titik jemput yang terorganisir untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
-
Optimalisasi Zonasi: Mengevaluasi efektivitas zonasi bagi tingkat SMP dan SMA untuk meminimalkan jarak tempuh siswa. (MI)








