Jakarta (Lampost.co)— Beberapa jam setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer di Venezuela yang menargetkan Presiden Nicolas Maduro.
Presiden AS Donald Trump kembali memicu ketegangan regional dengan melontarkan peringatan keras kepada Meksiko. Trump menyiratkan bahwa negara tetangga di selatan Amerika Serikat itu berpotensi menjadi sasaran intervensi berikutnya.
Operasi mendadak di Caracas tersebut menandai eskalasi besar kebijakan luar negeri Washington di kawasan Amerika Latin. Langkah ini berjalan tak lama setelah Trump menyampaikan interpretasi pribadinya terhadap Doktrin Monroe.
Baca juga: Penangkapan Maduro Berpotensi Guncang Pasar Energi Global, Harga BBM dan Inflasi AS Terancam Naik
Kekuatan Asing
Kebijakan lama AS yang menolak campur tangan kekuatan asing di belahan barat, serta menegaskan kesiapannya untuk mencampuri urusan negara lain.
Meskipun semasa kampanye ia mengusung slogan America First dan janji untuk menghindari konflik luar negeri.
Dalam wawancara dengan program Fox & Friends pada Sabtu (3/1), Trump secara terbuka mengkritik Meksiko dan kepemimpinannya.
“Sesuatu harus melakukan terhadap Meksiko,” ujar Trump saat di tanya mengenai situasi keamanan di perbatasan selatan AS.
Trump menuduh Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum tidak mampu mengendalikan negaranya dan membiarkan kartel narkoba berkuasa. Ia bahkan menyebut pemerintahan Meksiko berada dalam bayang-bayang ketakutan terhadap kelompok kriminal terorganisasi.
“Kita bisa saja bersikap sopan secara politik dan mengatakan, ‘Oh ya, ia menjalankannya.’ Tapi kenyataannya, ia sangat takut pada kartel,” kata Trump.
“Mereka yang mengendalikan Meksiko. Saya sudah berkali-kali bertanya kepadanya apakah ia ingin kita menyingkirkan kartel-kartel itu. Jawabannya selalu tidak. Jadi kita harus melakukan sesuatu,” tambahnya.
Meksiko Kecam Intervensi AS di Venezuela
Meksiko menjadi salah satu negara yang secara tegas mengecam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela. Pemerintah Meksiko menilai tindakan tersebut berpotensi merusak stabilitas kawasan dan melanggar prinsip-prinsip hubungan internasional.
Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri, Meksiko menegaskan bahwa Amerika Latin dan Karibia merupakan kawasan yang telah lama kesepakatan sebagai zona perdamaian.
“Amerika Latin dan Karibia adalah zona perdamaian yang dibangun atas dasar saling menghormati. Penyelesaian sengketa secara damai, serta penolakan terhadap penggunaan dan ancaman kekerasan. Setiap tindakan militer akan sangat membahayakan stabilitas regional,” tegas pernyataan tersebut.
Pernyataan itu sekaligus menandakan kekhawatiran negara-negara Amerika Latin terhadap meningkatnya keterlibatan militer AS di kawasan yang selama ini sensitif terhadap isu kedaulatan.
Kritik Datang dari Sekutu Trump Sendiri
Langkah Trump terhadap Venezuela juga menuai kritik dari dalam negeri Amerika Serikat, termasuk dari sekutu politiknya sendiri.
Anggota Kongres Marjorie Taylor Greene (Republikan-Georgia), yang belakangan sering berselisih pandangan dengan Trump. Mengecam penangkapan Maduro dan mempertanyakan prioritas kebijakan presiden.
Melalui unggahan di media sosial X, Greene menilai operasi militer di Venezuela. Justru mengalihkan perhatian dari ancaman utama yang dihadapi AS, yakni kartel narkoba Meksiko.
“Fentanyl bertanggung jawab atas lebih dari 70 persen kematian akibat overdosis narkoba di Amerika Serikat. Narkoba itu berasal dari kartel Meksiko. Di produksi menggunakan prekursor kimia dari Tiongkok, dan menyelundupkan melintasi perbatasan AS-Meksiko,” tulis Greene.
Ia menegaskan bahwa kartel Meksiko memiliki peran dominan dalam krisis narkoba yang merenggut puluhan ribu nyawa warga AS setiap tahun.
Greene juga mempertanyakan konsistensi Trump. Menurutnya, jika tujuan operasi militer di Venezuela benar-benar untuk menyelamatkan nyawa warga Amerika dari ancaman narkoba. Maka langkah serupa seharusnya diarahkan langsung pada sumber utama peredaran narkotika.
“Jika aksi militer dan perubahan rezim di Venezuela benar-benar soal menyelamatkan nyawa warga Amerika. Mengapa pemerintahan Trump belum mengambil tindakan nyata terhadap kartel Meksiko?” tulisnya.
Selain itu, Greene mengkritik keputusan Trump yang sebelumnya memberikan pengampunan kepada mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez. Yang tersandung kasus hukum, sembari mengklaim keberhasilan besar atas penangkapan Maduro.
Trump Tegaskan Kehadiran Militer AS
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Trump kembali menegaskan sikapnya. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu mempertahankan kehadiran militernya di Venezuela dalam jangka pendek.
Pada Sabtu (3/1), Trump bahkan menyebut AS siap mengelola Venezuela sementara waktu demi memastikan stabilitas dan keamanan di negara tersebut. Ia juga menegaskan tidak gentar untuk menempatkan pasukan militer AS di wilayah Amerika Latin apabila dianggap perlu.
Pernyataan ini semakin memperkuat sinyal bahwa pemerintahan Trump akan mengambil peran aktif. Bahkan agresif—di kawasan tersebut, meskipun risiko diplomatik dan geopolitik terus meningkat.
Sejumlah pengamat menilai kebijakan ini berpotensi memicu ketegangan baru di Amerika Latin. Mengingat sejarah panjang intervensi AS yang masih menyisakan trauma politik di banyak negara kawasan.








