Bandar Lampung (lampost.co)–Minuman berenergi identik dengan semangat dan fokus instan. Tapi siapa sangka, efek jangka panjangnya justru bisa membahayakan fungsi otak?
Psikolog klinis Intan Rachmayanti, M.Psi., menjelaskan bahwa kombinasi kafein, taurin, dan gula tinggi dalam minuman energi dapat menstimulasi sistem saraf secara berlebihan. “Otak terpaksa ‘menyala’ terus. Ini menyebabkan ketergantungan secara psikologis,” katanya dalam webinar edukasi remaja.
Minuman berenergi memang memberikan efek lonjakan adrenalin yang terasa seperti energi ekstra. Tapi setelah efek itu hilang, tubuh justru merasa lebih lelah dan sulit fokus. Ini merupakan efek crash.
Kondisi tersebut sering membuat seseorang ingin kembali mengonsumsi minuman energi. Lama kelamaan, otak terbiasa bergantung pada stimulan eksternal, bukan energi alami tubuh.
“Dalam jangka panjang, bisa menyebabkan gangguan tidur, peningkatan kecemasan, dan perubahan suasana hati,” jelas Intan. Ia menyebut banyak kasus remaja yang mengalami insomnia berat akibat konsumsi minuman energi berlebihan saat belajar ujian.
Penurunan Konsentrasi
Studi dari Universitas Airlangga juga menemukan bahwa siswa yang mengonsumsi minuman energi tiap hari mengalami penurunan konsentrasi dan meningkatnya stres setelah dua pekan.
Otak yang terbiasa dengan lonjakan energi artifisial akan kesulitan berfungsi optimal tanpa bantuan stimulan. Ini bisa berdampak pada kualitas belajar, kerja, hingga hubungan sosial.
Solusinya, pilih sumber energi alami. Konsumsi air putih, makan karbohidrat kompleks, tidur cukup, dan olahraga ringan lebih aman dan memberi hasil jangka panjang.