Bandar Lampung (Lampost.co) — Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lampung, dr Josi Harnos, menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap potensi wabah campak sangat bergantung pada satu indikator kunci yakni cakupan imunisasi.
Menurutnya, penyakit campak disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus dalam keluarga Paramyxoviridae. Virus ini menyebar melalui droplet udara dan kontak langsung dengan penderita, serta menyerang terutama anak-anak dengan imunitas rendah.
“Apakah ini mengkhawatirkan? Bisa iya, bisa tidak. Itu tergantung data cakupan imunisasi,” ujar Josi, Selasa, 3 Maret 2026.
Ia menjelaskan, bila angka imunisasi campak di suatu daerah mencapai di atas 90 persen, maka risiko terjadinya kasus berat dapat ditekan secara signifikan meski penyebaran tetap mungkin terjadi.
“Kalau cakupan imunisasi tinggi, meskipun menyebar, dampaknya tidak sampai kritis. Anak-anak yang terkena umumnya hanya mengalami gejala ringan dan tidak sampai pemberatan,” katanya.
Josi menjelaskan, campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan tinggi.
Satu kasus pada lingkungan sekolah, misalnya, bisa cepat menyebar karena gejalanya muncul bertahap.
“Anak demam beberapa hari, belum tentu langsung terdeteksi campak. Saat terdiagnosis, bisa jadi sudah menularkan ke teman-temannya,” ujarnya.
Namun ia menekankan, fokus utama bukan pada upaya membendung penyebaran semata, melainkan memperkuat ketahanan anak melalui imunisasi lengkap.
Data cakupan imunisasi, lanjutnya, berada di otoritas dinas kesehatan provinsi. Dari data itulah bisa terukur apakah situasi Lampung masuk kategori rawan atau terkendali.
“Yang harus terlihat adalah seberapa kuat anak-anak kita menghadapi virus itu. Kuncinya di imunisasi,” tegasnya.








