Bandar Lampung (Lampost.co) — Dinkes Bandar Lampung mencatat ada 14 kasus campak sepanjang tahun 2025.
Jumlah itu sekitar 13 persen dari total temuan kasus di seluruh Provinsi Lampung yang berjumalh 107 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temanggung mengungkapkan, kemunculan kasus campak itu kemungkinan terjadi akibat penurunan imunisasi yang dilakukan ketika pandemi Covid-19.
“Ini sebagai akibat dari pandemi Covid-19, pemberian imunisasi selama pandemi terganggu sehingga banyak anak yang tidak mendapatkan imunisasi,” ungkapnya, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurutnya, saat pandemi pemerintah fokus melakukan pencegahan dan penanganan termasuk vaksinasi Covid-19. Hal tersebut membuat sebagian besar anak tidak mendapatkan imunisasi rubella sebagai pencegah campak.
Kemudian ketersediaan vaksin MR Januari-Februari sudah terpenuhi. Pada bulan Maret ini terjadwal 1.818 bayi 9 bulan dan 1.811 anak usia 18 bulan.
“Vaksin yang ada di Puskesmas sampai dengan maret dapat memenuhi 9.340 dosis,” jelasnya.
Dia menjelaskan pihaknya terus melakukan komunikasi informasi dan edukasi melalui Puskesmas kepada masyarakat.
Masyarakat ia minta untuk aktif datang ke Puskesmas, Poskeskel, atau Posyandu untuk mendapatkan vaksin secara gratis.
Selain itu, pihaknya juga meminta agar masyarakat untuk segera membawa anak dengan ciri-ciri campak ke fasilitas kesehatan.
Hal tersebut penting agar anak mendapatkan penanganan sehingga petugas bisa segera melakukan surveilance.
“Jika anak mengalami demam, batuk, pilek, serta kemunculan ruam segera bawa ke Fasyankes terdekat agar segera mendapatkan penanganan,” imbaunya.








