Bandar Lampung (Lampost.co): Perubahan iklim tidak lagi menjadi isu masa depan, melainkan tantangan yang kita hadapi setiap hari. Cuaca ekstrem, gagal panen, dan meningkatnya ancaman kerentanan pangan mulai dirasakan oleh banyak keluarga dan petani kecil. Kondisi ini menuntut kita untuk memperkuat edukasi publik, terutama bagi generasi muda, tentang pentingnya pangan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan.
Fransiska dari Asosiasi Petani Organik Lampung mengungkapkan pihaknya terus berupaya meningkatkan atensi dan kesadaran publik untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan yang adaptif dan berkeadilan. Mereka menyelenggarakan kegiatan “Mewujudkan Hak Atas Pangan” pada 13 Desember 2025 di Asilo Hermelink, Jalan Z.A. Pagar Alam No.18, Gedong Meneng, Kec. Rajabasa, Bandar Lampung. Waktu kegiatan sejak pukul 08.00 hingga 14.00 WIB.
Kegiatan ini terisi oleh beragam aktivitas. Dialog terbuka melibatkan pakar pertanian, praktisi pertanian organik, pakar kesehatan, dan komunitas. Kemudian, dalam rangka mengasah kreativitas anak tentang pentingnya pangan dan lingkungan yang sehat, terdapat berbagai lomba. Di antaranya lomba menggambar (untuk usia sekolah dasar), lomba video kreatif (usia sekolah menengah pertama dan atas), dan desain poster (usia mahasiswa). Tak ketinggalan, berbagai komunitas yang peduli terhadap pangan dan lingkungan akan turut menggelar pameran selama acara berlangsung.
“Melalui pendekatan edukatif yang melibatkan keluarga dan komunitas, kegiatan ini ingin menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Hal itu sekaligus memastikan setiap orang memiliki akses terhadap pangan yang layak,” katanya melalui keterangan tertulis, Jumat, 28 November 2025.
Anak-anak
Untuk anak-anak usia sekolah dasar, tersedia pula permainan dan kuis seputar pertanian sebagai sarana belajar sambil bersenang-senang. Pemenang peserta lomba memiliki kesempatan untuk menceritakan hasil karyanya dan juga menerima hadiah dari panitia.
Ide kegiatan ini oleh Asosiasi Petani Organik Lampung (APOL) berkolaborasi dengan Lions Club, Tim Harvest Universitas Lampung, Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Tanjung Karang. Kemudian, Bidang Lingkungan Hidup Keuskupan Tanjung Karang, Wanita Katholik Republik Indonesia (WKRI), Bidang Lingkungan Hidup Keuskupan Tanjung Karang, Laudato Si’ Chapter Lampung. Selanjutnya, AOI (Aliansi Organis Indonesia), Aid in Action Indonesia, dan Wonder Farm Natural. Melalui kegiatan ini, pihaknya bermaksud untuk mengajak masyarakat Lampung dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian akan pangan aman, sehat, adil, dan berkelanjutan.
Fransiska juga mengatakan inisiatif ini tidak hanya menghadirkan pengetahuan, tetapi juga mengajak semua pihak untuk terlibat dalam upaya memperkuat ketahanan pangan lokal.
“Dengan mengikuti lomba-lomba ini, anak-anak dapat mengasah kreativitas, meningkatkan kesadaran tentang isu-isu lingkungan, dan berkontribusi dalam menciptakan solusi untuk krisis iklim,” ujarnya.








