Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat kinerja ekonomi Lampung sepanjang tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang solid.
Berdasarkan rilis berita resmi statistik, Kamis, 5 Februari 2026, ekonomi Lampung tercatat tumbuh sebesar 5,28 persen (c-to-c), menguat dari pada capaian tahun 2024 yang tumbuh 4,57 persen.
Dengan pertumbuhan 5,28 persen, Lampung juga mengukuhkan posisinya sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Sumatera. Berada di bawah Provinsi Kepulauan Riau (6,94%) dan Sumatera Selatan (5,35%). Bahkan, berhasil tumbuh di atas rata-rata ekonomi Pulau Sumatera yang tumbuh 4,81 persen.
Baca Juga:
Penduduk Miskin di Lampung Mencapai 860,13 Ribu Orang
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, menjelaskan bahwa nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tahun 2025 atas dasar harga berlaku mencapai Rp523.846,54 miliar. Sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp296.420,65 miliar.
Dari sisi produksi, hampir seluruh lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan positif.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi motor penggerak tercepat dengan lonjakan 7,83 persen. Kemudian jasa lainnya (7,38%), transportasi dan pergudangan (7,32%), serta industri pengolahan (6,32%).
Meski demikian, struktur ekonomi Lampung secara fundamental masih bertumpu pada sektor tradisional. Empat sektor utama memberikan kontribusi hingga 69,67 persen terhadap total PDRB.
Rinciannya yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan: 26,90%; industri pengolahan: 19,11%; perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor: 14,36%; dan konstruksi: 9,30%.
Di sisi lain, masih terdapat lapangan usaha yang mengalami kontraksi, yaitu pengadaan listrik dan gas sebesar 3,05 persen. Serta pertambangan dan penggalian sebesar 1,17 persen.
Triwulan IV-2025
Secara tahunan (y-on-y), ekonomi triwulan IV-2025 tumbuh meyakinkan sebesar 5,54 persen, menguat dari pada triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,04 persen.
Pertumbuhan tertinggi pada triwulan ini terutama terjadi pada jasa keuangan yang tumbuh 16,46 persen. Namun, Ahmadriswan memberikan catatan terkait kontraksi sebesar 3,05 persen secara quarter-to-quarter (q-to-q).
Kontraksi pada triwulan keempat ini merupakan fenomena musiman yang wajar, mengingat sektor pertanian sebagai penopang utama mengalami penurunan produksi hingga 17,14 persen setelah masa panen raya di triwulan sebelumnya.
Meski pertanian melandai, sektor jasa lainnya masih mampu tumbuh 9,53 persen secara q-to-q.
Beralih ke sisi pengeluaran, hampir seluruh komponen pengeluaran menunjukkan tren ekspansi sepanjang 2025.
Ekspor barang dan jasa tampil sebagai primadona dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 7,20 persen. Kemudian Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh kuat sebesar 5,28 persen.
Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) tetap menjadi bantalan utama ekonomi dengan porsi 62,61 persen dan tumbuh stabil di angka 4,94 persen.
Sebaliknya, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menjadi satu-satunya komponen yang mengalami kontraksi tipis sebesar 0,13 persen pada tahun 2025.
Prestasi ekonomi Lampung kian terlihat dalam skala regional. Selama tahun 2025, Provinsi Lampung berhasil menyumbangkan kontribusi sebesar 9,98 persen terhadap total PDRB Sumatera.








