Bandar Lampung (Lampost.co) — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lampung mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak isu SARA menjelang aksi unjuk rasa besar pada Senin, 1 September 2025. Ketua FKUB Lampung, Prof Baharuddin, menegaskan pihak tidak bertanggung jawab kerap memakai isu suku, agama, ras, dan antargolongan kerap untuk memecah belah persatuan.
Poin Penting:
-
FKUB Lampung mengingatkan masyarakat agar tidak terprovokasi isu SARA menjelang aksi demonstrasi 1 September 2025.
-
Demonstrasi dijamin undang-undang, namun harus dilakukan damai, bermartabat, dan tanpa kekerasan.
-
Lampung diharapkan dapat menjadi contoh daerah yang menjaga persatuan dan keharmonisan sosial.
Menurutnya, media sosial menjadi saluran utama penyebaran isu SARA. Karena itu, masyarakat untuk cerdas dan tidak mudah terpancing provokasi. “Masyarakat harus tetap waspada, jangan sampai terprovokasi isu SARA. Dampaknya hanya akan memecah belah bangsa,” ujarnya Prof Baharuddin, Sabtu, 30 Agustus 2025.
Isu SARA Berbahaya Jelang Aksi Demonstrasi
FKUB Lampung menilai demonstrasi adalah hak warga negara yang sah dan undang-undang menjaminnya. Namun, demonstrasi harus dengan damai, bermartabat, dan tanpa kekerasan. Baharuddin menambahkan narasi yang menyudutkan kelompok tertentu jangan sampai mencederai aksi unjuk rasa.
Baca juga: PWNU Lampung Serukan Perdamaian, Tolak Kekerasan
“Penyampaian aspirasi sah dalam demokrasi. Tapi jangan sampai merugikan masyarakat sendiri dengan merusak fasilitas umum,” kata Baharuddin.
Ia juga menekankan semua ajaran agama melarang tindakan kekerasan dan perusakan. Tidak ada agama yang membenarkan umatnya menyakiti orang lain.
FKUB Dorong Aksi Damai dan Bermartabat
Untuk itu, FKUB Lampung meminta seluruh peserta aksi, mulai dari mahasiswa, pengemudi ojek online, hingga organisasi masyarakat sipil, untuk menjaga ketertiban. Aksi harus menjunjung tinggi nilai perdamaian serta menghormati perbedaan. “Saya berharap aksi berlangsung secara bermartabat dan tetap menjunjung tinggi etika,” ujar Baharuddin.
Peringatan ini muncul karena isu SARA sering menjadi bahan provokasi yang memicu konflik horizontal. FKUB Lampung mengingatkan jika masyarakat terpancing, persatuan bangsa bisa terganggu. Oleh sebab itu, kewaspadaan terhadap hoaks dan isu SARA menjadi sangat penting.
Pentingnya Literasi Digital dan Solidaritas Sosial
FKUB juga mendorong masyarakat meningkatkan literasi digital agar mampu memfilter informasi di media sosial. Dengan begitu, penyebaran kabar bohong dapat diminimalisasi. Selain itu, solidaritas antarwarga harus diperkuat agar masyarakat tidak mudah diadu domba.
Baharuddin juga menegaskan Lampung harus menjadi contoh daerah yang menjaga kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, keharmonisan sosial adalah modal utama menjaga stabilitas politik dan keamanan. Ia mengajak seluruh pihak, termasuk aparat, tokoh masyarakat, dan mahasiswa, untuk bersama-sama mengawal aksi agar berjalan damai.