Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung meluncurkan Klinik Inovasi sebagai ruang kolaborasi, konsultasi, dan inkubasi gagasan.
Kepala Balitbangda Provinsi Lampung, Yurnalis menegaskan bahwa inovasi adalah kebutuhan mutlak di tengah kompetisi global dan derasnya disrupsi teknologi. Daerah, katanya, tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama yang stagnan.
“Kita harus adaptif, responsif, dan solutif. Inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” kata Yurnalis dalam siarannya, Sabtu, 14 Maret 2026.
Lampung Raih Predikat Inovatif
Kemudian ia menyampaikan bahwa dalam pengukuran Indeks Inovasi Daerah (IID) oleh Kemendagri. Lampung pada tahun terakhir melaporkan 48 inovasi daerah, dengan skor kematangan 52,89 dan predikat “Inovatif.” Capaian ini sebagai modal penting, namun harus terus ditingkatkan agar inovasi benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Selain itu, Lampung saat ini berada pada nilai Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) sebesar 3,5. Ini yang menandakan perlunya peningkatan kinerja, produktivitas, dan daya saing secara menyeluruh.
Sementara itu, Klinik Inovasi terancang sebagai ruang kolaborasi, konsultasi, dan inkubasi gagasan. Wadah ini sebagai, ide, data, riset, dan praktik terbaik akan dipadukan untuk menghasilkan solusi konkret.
Kemudian klinik ini juga menjadi fasilitas pendampingan bagi OPD maupun masyarakat untuk mempercepat implementasi inovasi.
Selanjutnya inovasi bukan semata teknologi canggih. Tetapi juga penyederhanaan pelayanan publik, digitalisasi sistem, penguatan tata kelola, hingga model pelibatan masyarakat yang efektif.
Melalui Klinik Inovasi ini, Pemprov Lampung menargetkan terbangunnya budaya kerja kreatif dan berbasis kinerja. Lalu meningkatnya kualitas pelayanan publik. Kemudian efisiensi anggaran melalui solusi tepat guna. Lalu penguatan daya saing daerah secara berkelanjutan.
“Saya mengajak seluruh OPD untuk tidak ragu membawa permasalahan kepada Klinik Inovasi. Jangan takut mencoba hal baru, selama terukur, berbasis data, dan akuntabel,” katanya.
Selanjutnya kedepan, keberhasilan daerah tidak lagi terukur dari besar kecilnya APBD. Tetapi seberapa cerdas pemerintah mengelola potensi serta menyelesaikan persoalan publik. Balitbangda sebagai pengelola Klinik Inovasi untuk memberikan pendampingan yang substansial dan solutif, bukan hanya administratif.







