Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Lampung, akan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi pada November 2025 hingga Januari 2026. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah.
BMKG juga mengidentifikasi bibit Siklon Tropis 97S di Laut Timor serta sirkulasi siklonik di Samudera Hindia. Fenomena tersebut berpotensi memicu hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi 2,5–4 meter di perairan selatan Indonesia, termasuk Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi potensi tersebut. Upaya itu meliputi penyediaan logistik dan peralatan penanggulangan bencana, pelaksanaan apel siaga bencana, serta inventarisasi wilayah rawan untuk melakukan mitigasi sejak dini.
Pemprov juga melakukan pemantauan berkala serta penyebaran informasi real time berbasis data bencana. Langkah itu untuk mempercepat respons apabila kondisi cuaca ekstrem terjadi.
Sekretaris Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, mengatakan pentingnya kesiapsiagaan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi terkait. Ia menyebut perencanaan, koordinasi, serta kesiapan anggaran dan peralatan harus lebih awal.
“Saya melihat semua kesiapan dari berbagai instansi terkait sudah siap. Semua memiliki gambaran yang perlu dilakukan,” ujar dia.
Marindo meminta seluruh OPD untuk melakukan konsolidasi internal dan memastikan langkah antisipasi selaras dengan arahan Kementerian Dalam Negeri. Ia menekankan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota sebagai kunci, mengingat wilayah terdampak berada di daerah.
“Provinsi harus mengingatkan apa saja yang perlu mereka siapkan, termasuk untuk kebutuhan bantuan dari BNPB, Basarnas, maupun Bulog,” kata dia.
Dia juga mendorong pelaksanaan simulasi kebencanaan secara berkala demi memastikan kesiapan personel di lapangan. Langkah itu penting untuk menguatkan kemampuan respons pada situasi darurat.
“Semua pernah melalui prosedur penanganan. Tinggal memastikan kesiapan personel, termasuk kesiapan psikologis dalam menghadapi situasi darurat,” tambah Marindo.








