Bandar Lampung (lampost.co)–Kawasan pertambakan Dipasena di Kabupaten Tulangbawang menjadi sorotan akibat fluktuasi hasil panen sangat kontras. Setelah sempat menikmati masa kejayaan produksi dalam beberapa tahun terakhir, grafik hasil udang di wilayah ini justru menunjukkan penurunan signifikan.
Berdasarkan statistik Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, kebangkitan produksi di Dipasena mulai terlihat sejak 2018 dengan torehan 8.622 ton. Angka ini konsisten merangkak naik hingga mencapai 12.514 ton pada 2020.
Pencapaian fenomenal terjadi pada 2021 produksi melonjak drastis hingga 16.209 ton. Namun, pasca-puncak tersebut, sektor ini seolah kehilangan momentum:
-
Tahun 2022: Merosot menjadi 9.923 ton.
-
Tahun 2023: Turun tajam ke angka 5.160 ton.
-
Tahun 2024: Kembali terkoreksi menjadi 4.164 ton.
-
Tahun 2025 (Hingga Agustus): Hanya mencatatkan angka sekitar 2.144 ton.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Lampung, Nasdan, mengonfirmasi bahwa kemunduran karena berbagai persoalan kompleks. Mulai dari degradasi infrastruktur pendukung hingga sistem pengelolaan tambak yang belum optimal.
“Evaluasi menyeluruh terutama pada aspek teknis budidaya yang memengaruhi daya tahan komoditas terhadap tantangan lingkungan saat ini,” jelas Nasdan, baru-baru ini.
Di tengah kelesuan produksi, secercah harapan muncul dari sektor swasta. PT Sakti Biru Indonesia (SBI) berminat melakukan revitalisasi besar-besaran di Dipasena. Perusahaan ini berencana menerapkan sistem budidaya udang vaname modern oleh Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sangat ketat.
Injeksi teknologi yang mencakup manajemen pakan otomatis, sterilisasi persiapan tambak, hingga sistem pemanenan canggih mampu memulihkan produktivitas Dipasena. Langkah modernisasi ini diproyeksikan tidak hanya mengembalikan volume panen ke level puncak, tetapi juga memperkuat posisi Lampung dalam peta persaingan perikanan global.








