Bandar Lampung (Lampost.co) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prediksi musim kemarau 2026. Puncak kemarau wilayah Provinsi Lampung terjadi pada bulan Agustus 2026.
“Prakiraan puncak musim kemarau 2026 umumnya akan terjadi pada bulan Agustus 2026 sebanyak 8 ZOM (66%). Lalu Juli 2026 sebanyak 2 ZOM (16%), dan September 2026 sebanyak 2 ZOM (17%).” kata Kepala Stasiun Klimatologi Lampung, Indra Purna dalam Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2026, Senin, 9 Maret 2026.
Kemudian ia menyampaikan awal musim kemarau 2026 di 12 zona musim (ZOM). Prakiraannya mulai bulan Mei 2026 sebanyak 8 ZOM (67%) dan bulan Juni 2026 sebanyak 4 ZOM (33%). Jika membandingkan terhadap normalnya selama 30 tahun (1991- 2020). Awal musim kemarau 2026 umumnya sama dengan normalnya. Sebanyak 7 ZOM (58%) dan maju dari normalnya sebanyak 5 ZOM (42%).
Sementara sifat hujan selama musim kemarau 2026 sebagian besar Zona Musim (ZOM). Prakiraannya di Bawah Normal (BN) sebanyak 7 ZOM (58%) dan Normal (N) sebanyak 5 ZOM (42%).
Kemudian durasi musim kemarau 2026 sebagian besar Zona Musim (ZOM). Prakiraannya 7-9 Dasarian sebanyak 3 ZOM (25%). 10-12 Dasarian sebanyak 4 ZOM (33%). 16-18 Dasarian sebanyak 4 ZOM (33%), dan 19-21 Dasarian sebanyak 1 ZOM (9%).
Wilayah Indonesia memiliki kondisi iklim yang terpengaruhi oleh fenomena regional dan fenomena global. Fenomena regional yakni, sirkulasi monsun Asia-Australia. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis atau Intertropical Convergence Zone (ITCZ). Ini yang merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Sedangkan fenomena global seperti, Fenomena El Nino/La Nina yang bersumber dari wilayah timur Indonesia (Ekuator Pasifik Tengah/Nino 3.4). Kemudian Dipole Mode yang bersumber dari wilayah barat Indonesia (Samudera Hindia barat Sumatera hingga timur Afrika).
Wilayah Lampung merupakan daerah yang memiliki pola hujan monsunal dengan sub type ZOM Monsunal-2. Berpola Monsunal dan memiliki 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Sirkulasi Monsun Asia-Australia
Sirkulasi angin Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun. Ini yang mengakibatkan sirkulasi angin Indonesia umumnya adalah pola monsun. Yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau Indonesia. Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi Australia. Ini yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau Indonesia
El Nino – La Nina
Sementara pada akhir Februari 2026, kondisi suhu permukaan laut Pasifik Tengah Ekuator (Nino3.4 region). Berada pada kondisi ENSO Netral dengan indeks bernilai -0.15. BMKG memprediksi fenomena tersebut akan berlanjut hingga menjelang pertengahan tahun 2026 yaitu sekitar bulan Juni 2026.
Lalu awal Maret 2026, kondisi suhu permukaan laut Pasifik Tengah Ekuator (Nino3.4 region) berada pada kondisi ENSO Netral dengan indeks bernilai +0.30. BMKG memprediksi fenomena tersebut akan berlanjut hingga menjelang akhir tahun 2026. yaitu sekitar bulan Oktober 2026.
Prediksi tersebut sejalan dengan prediksi dari beberapa pusat layanan iklim dunia lainnya. Nilai indeks ENSO yang Netral mengindikasikan potensi intensitas curah hujan. Ini pada saat Musim Kemarau 2026 Provinsi Lampung akan sesuai klimatologisnya.
Dipole Mode atau Indian Ocean Dipole (IOD)
Pemantauan kondisi IOD pada akhir bulan Februari 2026 menunjukkan terjadinya kondisi Dipole Mode Netral dengan indeksnya sebesar +0.67. Secara umum menurut BMKG dan beberapa pusat layanan iklim dunia lainya seperti NASA, BOM dan NMME (North American Multi Model Ensemble).
Kemudian kondisi IOD prediksinya bertahan Netral hingga Agustus 2026. Hal ini mengindikasikan potensi intensitas curah hujan. Pada saat Musim Kemarau 2026 Provinsi Lampung akan sesuai klimatologisnya.
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Lalu pada akhir bulan Februari 2026, sirkulasi angin pada lapisan 850mb. Ini menunjukkan wilayah Lampung masih terdominasi oleh aliran angin baratan (Monsun Asia). Dan akan berlangsung hingga awal April 2026 dengan intensitas lebih lemah dibandingkan klimatologisnya.
Untuk angin timuran (Angin Australia) prediksinya mulai memasuki wilayah Lampung pada pertengahan bulan April 2026. Hal ini mengindikasikan perubahan aliran angin baratan (Monsun Asia) menuju angin Timuran (Monsun Australia). Masa transisi musim akan terjadi hampir seluruh wilayah Lampung pada saat memasuki akhir bulan Maret hingga akhir April 2026 mendatang.
ITCZ
Kemudian daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ). Posisi ITCZ pada bulan Januari – Februari 2026 sudah terpantau berada ekuator. Dan akan bergerak ke arah selatan garis ekuator mengikuti pergerakan tahunannya. Pada bulan Maret 2026 hingga bulan Mei 2026, ITCZ prediksinya berada pada posisi sedikit lebih ke selatan ekuator.
Dari hal tersebut mengindikasikan terdapat potensi penambahan intensitas hujan. Pada saat Musim Kemarau 2026 yang tetap berada pada kondisi nilai normalnya.
Selanjutnya monitoring dan prakiraan suhu permukaan laut (SPL) Indonesia. Kondisi anomali SPL sekitar wilayah Lampung pada bulan Maret 2026. Secara umum terprediksi akan terdominasi dengan kondisi anomali SPL Normal dengan indeks kisaran +0.5 hingga -0.5°C.
Kondisi ini terprediksi akan bertahan pada periode akhir Maret hingga bulan Agustus 2026 mendatang. Nilai indeks SPL yang normal ini mengindikasikan adanya potensi penambahan curah hujan. Pada saat menjelang Puncak Musim Kemarau 2026 Provinsi Lampung mendatang dalam kondisi normal secara klimatologisnya.








