Bandar Lampung (Lampost.co)— Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha STIAB Jinarakkhita Lampung kembali menghadirkan program penguatan kompetensi mahasiswa melalui kuliah umum bertema literasi keuangan dan dunia perbankan pada Selasa, 12 Mei 2026, di Hall Lantai 1 Kampus STIAB Jinarakkhita Lampung.
Kegiatan ini menghadirkan praktisi dari Bank Maju sebagai narasumber utama guna memberikan wawasan mengenai pengelolaan keuangan secara bijak, sadar, dan berkelanjutan di era modern. Kuliah umum menghadirkan Tio Subandi selaku Kepala Seksi Pengelolaan Strategi Perusahaan Bank Maju dengan moderator Dr. Hendri Ardianto, M.Pd., MM.
Baca juga: Go Global! STIAB Jinarakkhita Lampung Gandeng Kampus Vietnam, Angkat Isu ESG
Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama antara STIAB Jinarakkhita Lampung, Bank Maju, Yayasan Dana Paramita Agama Buddha Indonesia (YDPABI), Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI), dan Kampus Buddhayana.
Dalam pemaparannya, Tio Subandi menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan tidak hanya berbicara tentang mencari keuntungan atau memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menyangkut kesadaran dalam mengambil keputusan finansial. Menurutnya, kondisi finansial seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pola pikir, serta lingkungan yang membentuk cara pandang terhadap uang.
Ia menjelaskan konsep “No One’s Crazy”, bahwa setiap individu memiliki pengalaman berbeda terkait uang sehingga keputusan finansial seseorang tidak selalu dapat dinilai benar atau salah secara mutlak.
Selain itu, ia juga memaparkan konsep “Luck and Risk” yang menegaskan bahwa keberhasilan maupun kegagalan finansial tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pribadi, tetapi juga dipengaruhi faktor keberuntungan dan risiko yang berada di luar kendali manusia.
Peserta kuliah umum juga diajak memahami konsep “Wealth Is What You Don’t See”, yaitu bahwa kekayaan sejati sering kali tidak tampak secara lahiriah. Orang yang memiliki kestabilan finansial umumnya mampu hidup sederhana, mengendalikan diri, serta membangun aset dan tabungan secara disiplin tanpa perlu menunjukkan kepada publik.
Selain itu, Tio Subandi menyoroti fenomena sosial melalui konsep “Man in the Car”. Ia menjelaskan bahwa banyak orang membeli sesuatu demi pengakuan sosial, padahal sebagian besar orang lain tidak terlalu memperhatikan kehidupan pribadi seseorang sebagaimana yang dibayangkan. Karena itu, keputusan keuangan sebaiknya tidak didasarkan pada gengsi atau dorongan pencitraan.
Pada sesi berikutnya, dijelaskan pula konsep “Never Enough”, yaitu kondisi ketika seseorang terus merasa kurang meskipun telah memiliki banyak harta. Menurutnya, ketidakmampuan memahami rasa cukup dapat menyebabkan seseorang kehilangan ketenangan hidup dan terjebak dalam pola konsumtif tanpa batas.
Sebagai penutup, peserta diperkenalkan pada pendekatan pengelolaan keuangan berbasis kesadaran atau Mindful Money, yaitu membangun keuangan secara perlahan, sadar, dan konsisten. Pendekatan ini menekankan pentingnya disiplin, kesadaran terhadap konsekuensi setiap keputusan finansial, serta kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang.
Wakil Ketua I Bidang Akademik STIAB Jinarakkhita Lampung, Dr. Susanto, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperluas wawasan mahasiswa melalui kolaborasi dengan dunia industri dan praktisi profesional.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa literasi keuangan merupakan bagian penting dari keterampilan hidup di era modern. Melalui kuliah umum ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang dunia perbankan, tetapi juga belajar membangun pola pikir yang bijaksana, tenang, dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja saat ini.






