Bandar Lampung (lampost.co) – Prestasi membanggakan kembali diraih Universitas Teknokrat Indonesia (UTI). Dosen sekaligus pakar Internet of Things (IoT) dan steganografi, Dedi Darwis, berhasil mendapatkan Hibah Hilirisasi Riset Prioritas 2025 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Sains dan Inovasi Teknologi (Kemendiktisaintek).
Penelitian yang diajukan berjudul “StegoIoT: Aplikasi Pengelolaan Kandang Sapi Modern Berbasis IoT dan Steganografi Teks”. Riset ini dinilai strategis karena menggabungkan teknologi IoT dengan steganografi untuk mendukung modernisasi peternakan sapi.
Kolaborasi Riset dan Industri
Penelitian ini melibatkan lintas disiplin ilmu dan bekerja sama dengan PT Sanjaya Farm, perusahaan peternakan sapi modern di Bandar Lampung. Melalui riset ini, tim menargetkan lahirnya aplikasi StegoIoT yang mampu meningkatkan efisiensi, menjaga kesehatan hewan, serta menjamin keamanan data peternakan.
Dedi Darwis menjelaskan, peternakan modern tidak cukup hanya dengan memberi pakan atau memerah susu, tetapi memerlukan dukungan teknologi.
“Dengan IoT, kita bisa memantau kesehatan, pertumbuhan, kondisi kandang, hingga pengelolaan limbah secara real time. Sementara steganografi memastikan data penting tetap aman dari ancaman peretasan,” ujarnya.
Tim Multidisiplin
Penelitian ini dipimpin Dedi Darwis bersama tim dosen UTI, antara lain:
Mahathir Muhammad (Digital Marketing) – fokus pada strategi adopsi teknologi.
Heni Sulistiani (Sistem Cerdas & Rekayasa Perangkat Lunak) – mengintegrasikan kecerdasan buatan.
Styawati (Data Mining) – menganalisis big data sensor IoT.
Sampurna Dadi Riskiono (IoT) – merancang perangkat keras dan sensor pintar.
Susanti (Ilmu Peternakan) – menghubungkan riset dengan kebutuhan lapangan.
Kolaborasi ini diyakini mampu menjawab tantangan besar sektor peternakan di era digital.
Manfaat StegoIoT untuk Peternakan
StegoIoT akan memantau kesehatan sapi, pertumbuhan, kondisi kandang, pola makan, hingga pengelolaan limbah organik. Data dari sensor kemudian diamankan dengan steganografi agar tidak mudah diretas.
CEO PT Sanjaya Farm, Bahrun Cholil, optimistis teknologi ini akan menjadi game changer.
“Jika berhasil, bukan hanya efisiensi meningkat, tapi daya saing industri peternakan Indonesia juga akan terangkat di pasar global,” katanya.
Target dan Luaran Riset
Riset ini berlangsung dua tahun (2025–2026) dengan target:
Tahun pertama: model aplikasi StegoIoT dan simulasi IoT.
Tahun kedua: purwarupa aplikasi siap diuji coba di PT Sanjaya Farm serta pengajuan paten.
Apresiasi dari Rektor Teknokrat
Rektor UTI, Dr. HM Nasrullah Yusuf, SE, MBA, menyampaikan apresiasi atas capaian ini.
“Hibah riset ini sangat kompetitif. Keberhasilan Dedi Darwis dan tim membuktikan bahwa UTI mampu bersaing di tingkat nasional sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, aplikasi StegoIoT diharapkan tidak hanya dipakai di PT Sanjaya Farm, tetapi juga dapat diadaptasi di peternakan lain, termasuk kambing, ayam, hingga perikanan.
Peternakan 4.0 untuk Indonesia
Hibah riset ini bukan sekadar prestasi bagi UTI, tetapi juga langkah penting dalam mendorong transformasi digital sektor peternakan Indonesia. Dengan riset StegoIoT, dunia peternakan di Tanah Air diarahkan menuju sistem yang lebih modern, efisien, aman, dan berdaya saing global.











