Keputusan itu langsung menarik perhatian publik. Banyak pihak mempertanyakan alasan di balik tetap cairnya dana tersebut.
Makasar (Lampost.co) — Kebijakan mengejutkan datang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena 1.720 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah dihentikan sementara operasionalnya. Meski tidak beroperasi, setiap unit tetap menerima insentif Rp 6 juta per hari.
Keputusan itu langsung menarik perhatian publik. Banyak pihak mempertanyakan alasan di balik tetap cairnya dana tersebut. “Untuk yang sementara tetap dapat (insentif Rp 6 juta per hari),” ujar Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, di Makassar.
Dadan menegaskan penghentian operasional tidak berarti aktivitas berhenti total. Ia menyebut SPPG tetap menjalankan sejumlah kegiatan internal.
Menurutnya, dana insentif untuk mendukung proses penyesuaian dan peningkatan kualitas layanan. Untuk itu, pemerintah tetap menjaga kesiapan dapur MBG agar bisa kembali beroperasi dengan standar yang lebih baik.
“Dia harus mengurus yang lain-lain dan karyawannya kan dapat pelatihan dan harus melakukan hal yang sesuai dengan kebutuhan pada saat penutupan,” jelasnya.
Dadan mengungkapkan penutupan sementara terjadi karena banyak SPPG belum memenuhi persyaratan penting. Dua dokumen utama menjadi sorotan, yaitu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Hingga April 2026, jumlah SPPG yang dihentikan mencapai sekitar 1.720 unit. Angka tersebut seiring proses evaluasi berlangsung. “Sekarang berkurang sedikit, sekitar 1.720-an (SPPG yang tutup sementara),” ungkapnya.
Kabar baiknya, SPPG yang mampu melengkapi syarat dapat kembali beroperasi tanpa menunggu lama. Pemerintah akan langsung mengevaluasi kualitas layanan sebelum memberikan izin.
Dadan optimistis proses itu bisa selesai dalam waktu singkat jika semua standar terpenuhi. Hal itu membuka peluang bagi ribuan dapur MBG untuk kembali aktif dalam waktu dekat.
“Kalau kualitasnya bagus, layanannya bagus, menunya juga bagus, mudah-mudahan sertifikatnya keluar dalam waktu sebulan,” jelasnya.
Di tengah isu penutupan, Dadan juga meresmikan SPPG baru di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Fasilitas itu memiliki standar tinggi dan bisa menjadi percontohan nasional.
SPPG Unhas menghadirkan sistem pengolahan air modern dengan teknologi reverse osmosis. Teknologi itu mampu menghasilkan air siap minum dengan kualitas tinggi. “Jadi pasti dijamin untuk air. Saya kira aspek keamanan terpenting,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kualitas air dalam mencegah gangguan pencernaan. Menurutnya, inovasi seperti itu harus SPPG lain di seluruh Indonesia ikuti.
Pemerintah menegaskan program MBG tetap berjalan. Evaluasi terhadap SPPG untuk meningkatkan standar layanan, bukan menghentikan program. Langkah itu bisa menciptakan sistem distribusi makanan yang lebih aman, higienis, dan berkualitas.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update