Jakarta (Lampost.co) — Pemerintah mencatat progres signifikan pemulihan infrastruktur pascabencana di wilayah Sumatra. Hingga pertengahan Desember 2025, 81 persen jalan nasional di wilayah terdampak telah kembali fungsional.
Poin Penting:
-
81 persen jalan nasional di wilayah bencana Sumatra telah pulih.
-
60 persen jembatan nasional sudah kembali fungsional.
-
Pemulihan melibatkan Kementerian PU, TNI, Polri, dan masyarakat.
Pemulihan jalan nasional tersebut mencakup wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Progres tersebut menjadi kunci pemulihan mobilitas warga dan distribusi logistik pascabencana.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan percepatan pemulihan berjalan sesuai target. Hasil peninjauan awal menunjukkan kerja lintas sektor memberi dampak signifikan. “Total ada sekitar 80 ruas jalan nasional terdampak. Alhamdulillah, saat ini 81 persen sudah fungsional,” ujar Dody.
Baca juga: Apersi Usulkan KPR Bencana bagi Korban Bencana Sumatra
Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di Halim Perdanakusuma, Jumat, 19 Desember 2025. Menurutnya, kolaborasi menjadi faktor utama keberhasilan.
Selain Kementerian Pekerjaan Umum, percepatan melibatkan TNI Angkatan Darat dan masyarakat setempat. Karena itu, penanganan dapat berjalan lebih cepat.
Di Aceh, tercatat 38 ruas jalan nasional terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 26 ruas telah kembali berfungsi.
Namun, 12 ruas jalan nasional di Aceh masih dalam tahap perbaikan. Fokus pengerjaan pada titik kerusakan berat.
Sementara itu, kondisi serupa terjadi di Sumatra Utara. Dari 12 ruas jalan nasional terdampak, 10 ruas sudah dapat berfungsi kembali dan dapat dilalui kendaraan.
Adapun di Sumatra Barat, hampir seluruh jalan nasional telah pulih. Akses utama kini kembali terbuka.
Selain jalan, Kementerian PU juga mempercepat pemulihan jembatan nasional. Infrastruktur tersebut krusial untuk konektivitas antarwilayah.
Dody mengungkapkan terdapat 33 jembatan nasional terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, sekitar 19 jembatan telah berfungsi. “Jembatan nasional yang sudah fungsional hampir 60 persen,” katanya.
Namun, sekitar 15 jembatan nasional masih membutuhkan penanganan lanjutan. Sebagian besar memerlukan jembatan darurat.
Untuk itu, Kementerian PU akan melibatkan TNI dan Polri. Dukungan tersebut untuk pemasangan jembatan bailey dan aramco.
Menurut Dody, target penyelesaian seluruh kebutuhan jembatan nasional akhir Desember 2025. Dengan target tersebut, harapnya mempercepat pemulihan akses.
Perbaikan Jalan Daerah Bertahap
Selain jalan dan jembatan nasional, perhatian juga diberikan pada jalan daerah. Tercatat 123 ruas jalan daerah terdampak di tiga provinsi.
Rinciannya, Aceh mencatat 20 ruas, Sumatra Utara 22 ruas, dan Sumatra Barat 81 ruas. Namun, penanganan jalan daerah masih bertahap. “Sementara fokus kami masih pada jalan nasional agar semua wilayah terdampak tidak terisolasi,” kata Dody.
Sementara itu, jembatan daerah yang terdampak mencapai 95 unit. Kerusakan terbesar terjadi di Aceh dan Sumatra Barat.
Aceh mencatat 42 jembatan rusak. Sementara Sumatra Barat mencatat 47 jembatan terdampak.
Hingga kini, baru empat jembatan daerah di Sumatra Barat yang kembali fungsional. Sisanya masih dalam proses pengerjaan.
Dody menyebut kebutuhan sekitar 69 unit jembatan bailey dan aramco. Kebutuhan tersebut untuk menyelesaikan 91 jembatan daerah.
Pemulihan infrastruktur tidak hanya menyasar konektivitas. Pemerintah juga fokus memulihkan layanan dasar masyarakat. Salah satunya melalui pemulihan sistem penyediaan air minum di wilayah yang aksesnya telah terbuka.
Ia menargetkan sistem penyediaan air minum pulih dalam tiga bulan ke depan. Target ini untuk mendukung kehidupan warga.
Sebagai langkah darurat, Kementerian PU juga menyalurkan ratusan sarana pendukung. Bantuan tersebut meliputi hidran umum dan toren.
Selain itu juga telah menyalurkan toilet portabel. Total terdapat 334 sarana prasarana bidang cipta karya.








