Jakarta (Lampost.co)— Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI M Syafi’i mengungkapkan fakta penting terkait pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Pesawat tersebut di ketahui sebelumnya terlibat langsung dalam misi kemanusiaan, membantu operasi pencarian dan pertolongan korban kapal terbakar di perairan Lampung.
Hal itu Syafi’i sampaikan saat rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Dalam paparannya, Syafi’i menyinggung sejumlah operasi SAR yang menjadi perhatian selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Baca juga: Basarnas Optimistis Temukan Tiga WNA Spanyol Korban Tenggelamnya KM Putri Sakinah di Labuan Bajo
Salah satunya insiden kebakaran kapal KM Maulana-30 di perairan Belimbing, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Desember 2025.
“Kami sampaikan operasi yang menjadi perhatian selama periode Nataru, yang pertama adalah KM Maulana-30 terbakar di perairan Belimbing Lampung,” ujar Syafi’i di hadapan anggota Komisi V DPR.
Menurut Syafi’i, operasi SAR kebakaran KM Maulana-30 meninggalkan kesan mendalam bagi Basarnas. Pasalnya, dalam misi tersebut Basarnas mendapat dukungan dari pesawat ATR 42-500 yang kini justru menjadi objek pencarian setelah mengalami kecelakaan.
“Dan ini menjadi kesan mendalam bagi kami, karena pada saat operasi ini, kami dibantu oleh pesawat yang saat ini sedang kami cari,” sambungnya.
Pencarian Kapal Terbakar
Tak hanya itu, Syafi’i juga mengungkapkan bahwa tiga penumpang yang berada di dalam pesawat ATR 42-500 saat kecelakaan merupakan personel yang terlibat langsung dalam misi pencarian korban kapal terbakar di Lampung.
Ketiganya di ketahui memiliki pengalaman dan kedekatan emosional dengan jajaran Basarnas karena pernah bekerja bersama dalam operasi kemanusiaan.
“Begitu juga tiga penumpang yang terlibat dalam pesawat ATR ini merupakan tiga personel yang juga kami kenal dalam misi tersebut,” kata Syafi’i.
Sebagaimana mengetahui, pesawat ATR 42-500 tersebut di laporkan hilang kontak dan jatuh pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat itu merupakan pesawat carter yang menggunakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menjalankan misi surveilans wilayah perairan Indonesia.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, pesawat ATR 42-500 saat itu tengah melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.
Dalam manifes penerbangan, pesawat membawa total 10 orang. Yakni terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Pesawat ATR 42-500 melaksanakan penerbangan dari Jogja menuju Makassar, dengan jumlah manifes 10 orang. Terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang dari Kementerian KP,” ujar Menhub Dudy.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan telah menemukan dua jenazah korban kecelakaan pesawat tersebut. Kedua jenazah berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Proses identifikasi masih terus dilakukan oleh tim forensik untuk memastikan identitas para korban.
Sementara itu, upaya pencarian dan evakuasi korban lainnya masih terus berlangsung. Basarnas bersama TNI, Polri. Serta unsur terkait mengerahkan personel dan peralatan guna menyisir lokasi jatuhnya pesawat di wilayah Maros dan sekitarnya.
Pencarian melakukan baik melalui jalur darat maupun udara dengan mempertimbangkan kondisi medan dan cuaca.
terus memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada demi menemukan seluruh korban dan mengungkap penyebab pasti kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.








