Selat Malaka Jadi Sorotan Dunia, Lebih Sibuk dari Hormuz dan Kunci Energi Asia

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat dunia menyadari pentingnya jalur alternatif.

Editor Effran
Senin, 27 April 2026 08.26 WIB
Selat Malaka Jadi Sorotan Dunia, Lebih Sibuk dari Hormuz dan Kunci Energi Asia

Jakarta (Lampost.co) – Perhatian dunia kini tertuju ke Selat Malaka. Jalur laut itu kembali dalam sorotan setelah ketegangan di Selat Hormuz mengganggu stabilitas energi global.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat dunia menyadari pentingnya jalur alternatif. Dalam situasi ini, Selat Malaka tampil sebagai jalur vital bagi distribusi energi ke Asia.

Di dalam negeri, isu itu mencuat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menyinggung potensi penerapan biaya bagi kapal yang melintas.

Namun, Menteri Luar Negeri Sugiono segera meluruskan isu tersebut. Ia menegaskan Indonesia tidak akan memungut tarif dari kapal internasional. Pemerintah tetap memegang prinsip kebebasan navigasi sesuai hukum laut internasional.

 Jepang Soroti Peran Strategis Indonesia

Perhatian internasional juga datang dari Jepang. Diplomat Jepang di Jakarta, Mitsuru Myochin, menilai posisi Indonesia sangat strategis.

Menurutnya, dunia hanya memiliki dua chokepoint utama yang krusial, yaitu Selat Malaka dan Selat Hormuz.

Sebab, Indonesia berbatasan langsung dengan sebagian besar wilayah Selat Malaka, peran Indonesia sangat penting dalam menjaga stabilitas kawasan.

 Perbandingan Selat Malaka dan Selat Hormuz

 Volume Minyak dan Peran Global

Dalam peta energi global, kedua jalur itu masuk kategori oil chokepoint. Jalur itu menjadi titik transit utama distribusi minyak dunia.

Data dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan sekitar 73 juta barel minyak melintasi chokepoint setiap hari.

Selat Malaka mencatat volume sekitar 23,2 juta barel per hari pada 2025. Angka itu setara hampir 30 persen perdagangan minyak laut global.

Sementara itu, Selat Hormuz mencatat sekitar 20,9 juta barel per hari. Jalur itu menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia. Secara angka, Selat Malaka menampung volume lebih besar dibandingkan Hormuz.

 Kepadatan Kapal dan Aktivitas Pelayaran

Selain volume minyak, kepadatan kapal juga menjadi pembeda utama.

Data Marine Department Malaysia mencatat lebih dari 102.500 kapal melintasi Selat Malaka sepanjang 2025. Jumlah itu setara sekitar 280 kapal setiap hari.

Sebagai perbandingan, Selat Hormuz hanya sekitar 140 kapal per hari sebelum konflik memanas. Setelah konflik, jumlahnya turun drastis. Pada April 2026, hanya lima kapal melintas dalam sehari di Hormuz.

 Risiko Geopolitik dan Stabilitas

Meski lebih ramai, Selat Malaka relatif stabil dari sisi geopolitik. Sebaliknya, Selat Hormuz berada di kawasan rawan konflik. Risiko itu membuat Hormuz sering menjadi titik krisis energi global. Namun, gangguan di Selat Malaka tetap berpotensi memicu dampak besar bagi Asia.

 Fungsi Berbeda, Dampak Sama Besar

Selat Hormuz berfungsi sebagai pintu keluar minyak dari kawasan Teluk. Sementara Selat Malaka menjadi jalur distribusi menuju Asia Timur.

Negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada jalur ini. Untuk itu, gangguan di salah satu jalur akan langsung memengaruhi rantai pasok energi global.

 Dukungan Jepang untuk Keamanan Selat Malaka

Sebagai bentuk perhatian, Jepang mulai meningkatkan kerja sama keamanan dengan Indonesia. Melalui skema Official Security Assistance (OSA), Jepang memberikan kapal patroli cepat kepada TNI AL.

Sebelumnya, Jepang lebih banyak menyalurkan bantuan melalui skema ODA yang fokus pada sektor sipil. Kini, dukungan juga mencakup penguatan Badan Keamanan Laut Indonesia (Bakamla) melalui kapal patroli dan infrastruktur. Langkah itu menunjukkan Selat Malaka bukan hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI