Menyalakan Lampung Cerdas melalui Gerakan Literasi Bersama

Di tengah derasnya arus informasi digital, isu literasi kembali menjadi perbincangan penting di berbagai daerah, termasuk di Lampung. Literasi tidak lagi dapat dimaknai secara sempit sebatas kemampuan membaca dan menulis.

Editor Triyadi Isworo
Senin, 20 April 2026 13.49 WIB
Menyalakan Lampung Cerdas melalui Gerakan Literasi Bersama
Dosen Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Lampung, Renti Oktaria, M.Pd. Dok. Unila

Di tengah derasnya arus informasi digital, isu literasi kembali menjadi perbincangan penting di berbagai daerah, termasuk di Lampung. Literasi tidak lagi dapat dimaknai secara sempit sebatas kemampuan membaca dan menulis. Melainkan telah berkembang menjadi kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, memilah kebenaran, serta menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dalam konteks itulah, cita-cita menghadirkan “Lampung Cerdas” sesungguhnya sangat bergantung pada seberapa kuat budaya literasi dibangun secara kolektif.

Kabar baiknya, kondisi literasi Lampung menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak bermunculan komunitas baca, taman bacaan masyarakat, gerakan donasi buku, kelas menulis, serta berbagai aktivitas literasi di sekolah dan perguruan tinggi.

Kampus seperti Universitas Lampung juga memiliki potensi besar menjadi pusat penggerak literasi melalui tri dharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sejumlah wilayah, komunitas akar rumput bergerak dengan semangat luar biasa. Mereka membuka ruang baca sederhana, mendampingi anak-anak belajar, menggalang donasi buku, hingga menyelenggarakan diskusi publik. Ini adalah tanda bahwa kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Banyak orang kini memahami bahwa literasi bukan hanya soal buku, tetapi juga tentang masa depan.

Namun demikian, kita juga perlu jujur melihat kenyataan bahwa perkembangan tersebut belum merata. Di beberapa daerah, akses terhadap bahan bacaan masih terbatas, fasilitas perpustakaan belum optimal, pendampingan komunitas minim, dan ruang belajar publik belum tersedia secara memadai.

Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan daerah yang jauh dari pusat layanan pendidikan masih menjadi tantangan nyata. Karena itu, Lampung memang sedang bergerak maju, tetapi masih membutuhkan percepatan dan pemerataan.

Literasi Bukan Seremoni

Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah masih adanya pandangan bahwa literasi cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Misalnya lomba membaca saat peringatan tertentu, acara simbolis penyerahan buku, atau program yang berhenti setelah dokumentasi selesai. Tentu kegiatan seperti itu tidak salah, tetapi jika berhenti di sana, dampaknya sangat terbatas.

Paulo Freire pernah menegaskan bahwa membaca dunia sama pentingnya dengan membaca kata-kata. Pesan ini menunjukkan bahwa literasi harus menghasilkan kesadaran, daya pikir, dan kemampuan memecahkan persoalan hidup. Karena itu, gerakan literasi tidak boleh berhenti pada seremoni, melainkan harus tumbuh menjadi kebiasaan harian di rumah, sekolah, kampus, dan masyarakat.

Kita membutuhkan perpustakaan yang hidup, bukan sekadar ruangan penuh rak buku. Kita membutuhkan sekolah yang membangun budaya diskusi, bukan hanya rutinitas administrasi. Kita membutuhkan keluarga yang memberi teladan membaca, bukan sekadar menyuruh anak belajar. Literasi yang sejati adalah praktik hidup sehari-hari.

Hambatan Lampung Cerdas

Setidaknya terdapat tiga tantangan utama dalam mewujudkan cita-cita “Lampung Cerdas”. Pertama, kesenjangan akses. Belum semua anak dan masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh bahan bacaan, internet yang sehat dan produktif, ruang belajar yang nyaman, serta pendampingan pendidikan yang memadai. Kondisi ini perlu direspons melalui kebijakan yang berpihak dan terarah, terutama bagi wilayah-wilayah yang masih terbatas akses layanan literasinya.

Kedua, minat baca yang belum konsisten. Di tengah era digital, perhatian masyarakat kerap tersita oleh hiburan cepat melalui gawai dan media sosial. Akibatnya, kebiasaan membaca mendalam, berdiskusi secara kritis, dan belajar secara berkelanjutan sering kali tersisih oleh konten singkat yang instan. Tantangan kita bukan menolak perkembangan teknologi, melainkan mengelolanya secara cerdas agar justru menjadi sarana memperkuat budaya literasi.

Ketiga, kolaborasi yang belum optimal. Berbagai program literasi sesungguhnya telah berjalan di banyak sektor. Pemerintah memiliki kebijakan, kampus memiliki sumber daya akademik, komunitas memiliki semangat gerakan, dan sekolah memiliki ruang pembelajaran. Namun, berbagai inisiatif tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu ekosistem yang saling mendukung dan berkelanjutan. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki belum menghasilkan dampak maksimal.

Pada akhirnya, tiga tantangan ini bukan alasan untuk pesimis, melainkan peta jalan yang harus dibenahi bersama. Jika akses diperluas, minat baca diperkuat, dan mempererat kolaborasi. Maka langkah menuju Lampung yang cerdas, berdaya saing, dan berbudaya literasi akan semakin nyata.

Gerakan Bersama 

Jika ingin mewujudkan Lampung Cerdas, maka literasi harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah memiliki kekuatan kebijakan dan anggaran. Kampus memiliki sumber daya akademik dan riset. Sekolah memiliki peserta didik dan ruang pembelajaran. Komunitas memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dunia usaha memiliki potensi dukungan sosial melalui CSR. Keluarga memiliki pengaruh paling awal dan paling kuat terhadap kebiasaan anak.

Bayangkan jika seluruh unsur ini bekerja serempak: pemerintah menyiapkan kebijakan dan fasilitas, kampus mengirim mahasiswa untuk pendampingan desa literasi, sekolah membuka pojok baca kreatif, komunitas menjalankan kelas baca gratis, perusahaan mendukung perpustakaan masyarakat, dan keluarga menyediakan waktu membaca di rumah. Inilah model perubahan yang nyata.

Yang perlu diperbaiki segera adalah kesinambungan program. Jangan sampai kegiatan berhenti ketika pejabat berganti atau anggaran selesai. Selain itu, perlu ruang dialog rutin antar pemangku kepentingan agar persoalan lapangan cepat direspons. Dukungan nyata bagi komunitas akar rumput juga penting, karena selama ini banyak dari mereka bekerja dengan keterbatasan namun berdampak besar.

Mengukur Keberhasilan Nyata

Keberhasilan gerakan literasi tidak dapat diukur hanya dari banyaknya seminar, jumlah spanduk, atau ramainya seremoni. Ukuran sesungguhnya adalah perubahan perilaku masyarakat.

Apakah anak-anak semakin senang membaca dan mampu memahami isi bacaan? Lalu, apakah guru semakin kreatif mengajar dan terus belajar? Kemudian, apakah mahasiswa lebih kritis dan produktif menulis karya ilmiah? Selanjutnya apakah komunitas baca tumbuh dan bertahan lama? Kemudian apakah perpustakaan sekolah dan desa ramai termanfaatkan? Lalu apakah masyarakat semakin cerdas memilah informasi dan tidak mudah termakan hoaks?

Jika jawaban atas pertanyaan itu semakin positif, berarti gerakan literasi sedang berjalan pada jalur yang benar.
Ki Hajar Dewantara pernah menekankan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dalam konteks kekinian, literasi adalah salah satu jalan penting untuk menuntun potensi itu.

Penutup

Lampung memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk berkembang menjadi provinsi yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing. Hal ini tercermin dari tingginya semangat masyarakat dalam berbagai inisiatif pendidikan, tumbuhnya komunitas literasi berbagai wilayah, berkembangnya perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan, serta hadirnya generasi muda yang semakin kreatif dan terbuka terhadap perubahan. Modal tersebut merupakan pondasi penting yang perlu dikelola melalui arah kebijakan yang jelas, sinergi lintas sektor, dan komitmen yang berkelanjutan.

Dalam perspektif pembangunan manusia, literasi tidak sepatutnya terpandang sebagai program sesaat atau kegiatan seremonial semata. Literasi merupakan investasi jangka panjang bagi peradaban masyarakat. Ketika warga memiliki kebiasaan membaca, kemampuan berpikir kritis, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, serta kecakapan memanfaatkan informasi secara bijak, maka sesungguhnya daerah sedang membangun kualitas sumber daya manusianya secara fundamental.

Dengan demikian, gagasan “Lampung Cerdas” bukanlah cita-cita yang utopis. Ia dapat terwujudkan melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten: memperluas akses bacaan, mendampingi anak-anak dalam belajar, memperkuat komunitas akar rumput, serta menjaga kolaborasi antar lembaga. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan literasi bukan sekadar banyaknya kegiatan, melainkan sejauh mana masyarakat menjadi lebih berdaya, mandiri, dan maju karena pengetahuan.

Oleh:
Renti Oktaria, M.Pd.
Dosen Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Lampung

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI