• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Sabtu, 29/11/2025 14:47
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Home Tajuk Lampung Post

Bongkar Indikasi Main Kotor MinyaKita

Minyak goreng kemasan subsidi yang seharusnya berisi 1 liter ternyata hanya terisi 750–800 mililiter.

MustaanbyMustaan
14/03/25 - 06:40
in Tajuk Lampung Post
A A
minyakita

Ilustrasi (lampost.co)

KASUS pengurangan takaran Minyakita yang baru-baru ini terungkap harus menjadi alarm bagi pemerintah dan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas. Minyak goreng kemasan subsidi yang seharusnya berisi 1 liter ternyata hanya terisi 750–800 mililiter. Ini bukan sekadar kelalaian teknis, tetapi indikasi kecurangan yang merugikan masyarakat luas. Jika praktik ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin skema serupa terjadi pada komoditas lain yang juga mendapat subsidi dari negara.

Temuan ini pertama kali mencuat saat inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menemukan kemasan Minyakita yang tak sesuai takaran. Kementerian Perdagangan pun bergerak cepat dengan menarik produk Minyakita kemasan 1 liter yang volumenya kurang dari pasaran. Namun, langkah ini belum cukup.

Harus ada pengusutan lebih dalam untuk mengungkap apakah ada unsur kesengajaan dan siapa saja pihak yang terlibat dalam skema ini.

Dari segi hukum, perbuatan ini dapat menjadi tindak pidana perlindungan konsumen sebagaimana tertuangr dalam Undang-Undang Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasal 8 ayat (1) huruf a menyebutkan bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi atau memperdagangkan barang yang tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau keterangan barang. Jika terbukti bersalah, pelaku usaha bisa mendapat sanksi pidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp2 miliar sebagaimana tercantum dalam Pasal 62 ayat (1) UU yang sama.

Selain itu, karena Minyakita merupakan barang yang mendapat intervensi pemerintah dalam harga dan distribusinya, ada potensi pelanggaran dalam Undang-Undang Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 2 dan Pasal 3 UU tersebut mengatur bahwa setiap orang yang menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dan merugikan keuangan negara.

Tindakan itu dapat dihukum minimal 4 tahun dan maksimal seumur hidup.

Fakta bahwa kecurangan ini terjadi di beberapa daerah dengan pola yang sama mengindikasikan adanya praktik terstruktur yang kemungkinan melibatkan lebih dari sekadar oknum di level produksi. Jika sistem pengawasan di Kementerian Perdagangan berjalan sebagaimana mestinya, maka kejadian ini seharusnya bisa terdeteksi lebih awal. Ketika masyarakat bisa menemukan ketidaksesuaian takaran di pasaran, bagaimana mungkin pengawas di rantai distribusi tidak mengetahuinya? Apakah ada unsur pembiaran?

Pemerintah dan aparat hukum harus bertindak cepat. Tidak cukup hanya menarik produk yang tidak sesuai takaran. Tetapi juga harus ada investigasi menyeluruh untuk memastikan tidak ada kejahatan sistematis yang dimainkan oleh produsen atau distributor tertentu.

Jika ditemukan ada kesengajaan untuk mendapatkan keuntungan berlebih dengan mengorbankan hak konsumen, pelaku harus diproses hukum.

Selain penegakan hukum, perbaikan sistem pengawasan juga menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Pemerintah harus memperkuat mekanisme pengawasan, baik dari sisi regulasi maupun pengawasan lapangan, agar kasus serupa tidak terulang. Jika Minyakita saja mereka bisa bermain seperti ini, bagaimana dengan komoditas bersubsidi lainnya?

Kasus ini adalah ujian bagi pemerintah dalam menegakkan prinsip keadilan bagi rakyat. Jangan sampai kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan subsidi justru semakin terkikis karena kelalaian pengawasan atau bahkan praktik culas segelintir pihak. Usut tuntas indikasi main kotor ini, tegakkan keadilan bagi rakyat!

Tags: editorialesaikolomKORUPSIkotorMinyakitatajuktakaranTIPIKOR
ShareSendShareTweet

Berita Lainnya

dapur tradisi

Segubal, Dapur Tradisi Lampung Menuju Agenda Ketahanan Pangan

byMustaan
26/09/2025

Oleh :Erlina Rufaidah (Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Unila) dan Musta'an Basran (Penulis Budaya Lampung) DI tengah riuhnya wacana swasembada...

omon-omon

Pantang Omon Omon Perangi Korupsi

byMustaan
01/07/2025

PRESIDEN Prabowo Subianto mengumumkan “perang total” melawan korupsi saat meresmikan pembangunan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Istana Negara dan bukan...

kabinet

Matahari Kembar Kabinet Pemerintahan Prabowo

byMustaan
02/05/2025

FENOMENA matahari kembar pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi diskursus politik yang menarik. Istilah ini merujuk pada situasi ketika dua...

Berita Terbaru

Jadwal Liga Primer Inggris Akhir Pekan Ini, Ada Arsenal vs Tottenham
Bola

Jadwal Liga Primer Inggris Pekan Ini, Ada Bigmatch Chelsea vs Arsenal

byRicky Marlyand1 others
29/11/2025

Jakarta (Lampost.co) -- Liga Primer Inggris akan kembali bergulir pada Sabtu—Minggu, 29 dan 30 November 2025. Premier League telah memasuki...

Read moreDetails
Gedung Merah Putih KPK di Jakarta. (Dok. Antara)

KPK Sebut Tak Ada Banding di Kasus Ira Puspadewi

29/11/2025
Gedung Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) di Jakarta. (Dok. Antara-HO)

BPKP Bantah Pernyataan KPK soal Laporan Dugaan Awal Korupsi ASDP

29/11/2025
Wamenko Kumham Imipas Otto Hasibuan .(Dok. Antara)

Pemberian Rehabilitasi Kasus ASDP Bukan Intervensi Hukum

29/11/2025
Nampak cuaca Kota Bandar Lampung cerah berawan. Namun BMKG Provinsi Lampung tetap mengingatkan tetap waspada potensi hujan. (Foto: Lampost.co / Triyadi Isworo)

Sabtu, 29 November 2025, Lampung Cerah Berawan Berpotensi Hujan

29/11/2025
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.