AI dan “Bintang Kanibal” Buka Jalan Baru Mengungkap Energi Gelap

Hasil penelitian yang telah diterbitkan di jurnal Nature Astronomy itu membuka peluang baru dalam memahami energi gelap, komponen misterius yang diperkirakan mencakup hampir 68 persen isi alam semesta.

Editor Denny
Rabu, 13 Mei 2026 13.43 WIB
AI dan “Bintang Kanibal” Buka Jalan Baru Mengungkap Energi Gelap
energi gelap AI

Bandar Lampung (Lampost.co) — Perburuan menjawab misteri terbesar alam semesta memasuki babak baru. Kali ini, para ilmuwan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan ledakan “bintang kanibal” untuk menelusuri rahasia energi gelap, kekuatan misterius yang diyakini membuat alam semesta terus mengembang semakin cepat.

Di balik penelitian tersebut, ada objek kosmik bernama supernova tipe 1a, ledakan dahsyat dari bintang mati yang selama puluhan tahun dijadikan “penggaris” oleh astronom untuk mengukur jarak antargalaksi. Namun kini, para ilmuwan mulai menyadari bahwa alat ukur kosmik itu mungkin tidak sesempurna yang selama ini dipercaya.

Ketika Bintang Mati Menjadi “Kanibal”

Fenomena ini bermula dari katai putih, inti bintang yang telah mati. Dalam sistem bintang ganda, katai putih dapat “memakan” material dari bintang pendampingnya secara perlahan. Ketika material yang diserap sudah terlalu banyak, terjadilah ledakan termonuklir raksasa yang menghancurkan bintang tersebut sepenuhnya. Ledakan inilah yang dikenal sebagai supernova tipe 1a.

Selama bertahun-tahun, astronom menganggap semua supernova tipe 1a memiliki tingkat kecerahan yang hampir sama. Karena itulah objek ini dijuluki “lilin standar” kosmos. Dengan membandingkan tingkat terang supernova, ilmuwan bisa menghitung jarak galaksi dan memetakan ekspansi alam semesta.

Namun penelitian terbaru menunjukkan ada masalah yang selama ini luput diperhatikan. Tingkat kecerahan supernova ternyata sedikit dipengaruhi lingkungan galaksi tempat ledakan terjadi. Perbedaan kecil itu bisa berdampak besar pada pengukuran jarak kosmik dan pemahaman tentang energi gelap.

AI Membantu Membaca Pola Kosmos

Tim peneliti dari Universitas Barcelona yang dipimpin Konstantin Karchev dan Raúl Jiménez kemudian mengembangkan metode baru bernama Combined Inference and Galaxy-related Standardization (CIGaRS). Pendekatan ini memadukan simulasi kosmologi, analisis matematis, dan AI untuk membaca pola supernova langsung dari gambar observasi.

Alih-alih hanya mengandalkan spektrum cahaya seperti metode lama, sistem baru tersebut memungkinkan ilmuwan memperkirakan jarak galaksi secara lebih akurat menggunakan data visual dalam jumlah besar.

“Cara ampuh untuk memodelkan alam semesta adalah dengan mensimulasikannya di komputer,” ujar Raúl Jiménez dalam pernyataan resminya.

Menurutnya, simulasi memungkinkan peneliti mengubah berbagai parameter kosmologi sekaligus demi memahami bagaimana alam semesta sebenarnya berkembang.

Era Baru Observatorium Rubin

Metode berbasis AI ini diprediksi menjadi sangat penting ketika Observatorium Vera C. Rubin di Cile mulai menjalankan proyek Legacy Survey of Space and Time (LSST). Observatorium tersebut nantinya akan mengumpulkan data jutaan objek langit, termasuk supernova dalam jumlah yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Dengan banjir data astronomi itu, pendekatan manual akan semakin sulit dilakukan. Di sinilah AI berperan sebagai “asisten kosmik” untuk memilah, membaca, dan menganalisis pola alam semesta dalam skala masif.

Hasil penelitian yang telah diterbitkan di jurnal Nature Astronomy itu membuka peluang baru dalam memahami energi gelap, komponen misterius yang diperkirakan mencakup hampir 68 persen isi alam semesta.

Jika metode ini berhasil meningkatkan akurasi pengukuran kosmik, ilmuwan mungkin akan semakin dekat menemukan jawaban atas salah satu teka-teki terbesar sains modern: mengapa alam semesta terus melaju semakin cepat menuju masa depan yang belum sepenuhnya dipahami manusia.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI