Sam Altman Ungkap Alasan OpenAI Menolak Dikuasai Elon Musk

Altman juga mengungkap bahwa Musk sempat mengusulkan agar OpenAI berada di bawah naungan Tesla.

Editor Denny
Rabu, 13 Mei 2026 14.21 WIB
Sam Altman Ungkap Alasan OpenAI Menolak Dikuasai Elon Musk
Sam Altman dan Elon Musk. (AFP)

Bandar Lampung (Lampost.co) — Perseteruan antara Sam Altman dan Elon Musk kini tidak lagi sekadar perang pernyataan di media sosial. Konflik dua tokoh besar teknologi itu mulai membuka cerita lama tentang bagaimana OpenAI dibangun, sekaligus alasan mengapa hubungan mereka akhirnya pecah.

Dalam sidang di pengadilan federal Oakland, California, CEO OpenAI Sam Altman mengungkap bahwa Musk pernah menginginkan kendali penuh atas perusahaan pengembang ChatGPT tersebut. Bahkan, menurut Altman, ada pembahasan soal kontrol OpenAI yang suatu hari bisa diwariskan kepada anak-anak Musk.

Pernyataan itu langsung memicu perhatian besar karena menunjukkan bahwa konflik OpenAI dan Elon Musk ternyata sudah berakar sejak masa-masa awal perusahaan AI tersebut berdiri.

OpenAI Disebut Hampir Berada di Bawah Kendali Musk

Menurut kesaksian Altman, ketika OpenAI didirikan pada 2015, Elon Musk bukan hanya sekadar investor atau pendukung awal.

Musk disebut aktif mendorong struktur perusahaan yang memberinya pengaruh besar terhadap arah pengembangan Artificial General Intelligence (AGI), teknologi AI yang digadang-gadang mampu melampaui kecerdasan manusia di banyak bidang.

Dalam diskusi internal para pendiri, Altman mengaku sempat terkejut dengan cara Musk memandang kepemilikan dan kontrol perusahaan.

Salah satu momen yang paling diingatnya adalah ketika muncul pertanyaan mengenai siapa yang akan mengendalikan OpenAI jika Musk meninggal dunia.

Menurut Altman, Musk saat itu memberi jawaban yang mengarah pada kemungkinan kontrol perusahaan diwariskan kepada keluarganya.

Konflik Besar Soal Kendali AI

Di balik drama hukum yang kini berlangsung, akar utama konflik ternyata bukan hanya soal uang, tetapi soal siapa yang seharusnya memegang kendali teknologi AI masa depan.

Altman mengatakan dirinya bersama Greg Brockman dan Ilya Sutskever menolak gagasan bahwa satu orang dapat memiliki kuasa penuh atas AGI.

Mereka menilai teknologi semacam itu terlalu besar dan berisiko jika dikendalikan individu tertentu.

Pandangan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi awal OpenAI:

AI tingkat lanjut seharusnya dikembangkan untuk kepentingan luas, bukan dimonopoli satu pihak.

Karena itulah, perbedaan visi mulai muncul antara Musk dan jajaran pendiri lainnya.

Elon Musk Disebut Ingin OpenAI Masuk ke Tesla

Altman juga mengungkap bahwa Musk sempat mengusulkan agar OpenAI berada di bawah naungan Tesla.

Langkah tersebut diyakini akan mempercepat pendanaan dan pengembangan teknologi AI secara agresif. Namun usulan itu akhirnya tidak disetujui.

Menurut Altman, Musk merasa dirinya mampu membawa lonjakan besar terhadap nilai perusahaan hanya melalui pengaruh dan reputasinya di dunia teknologi.

Pernyataan itu semakin memperkuat gambaran bahwa sejak awal Musk memang ingin memiliki kontrol besar terhadap arah OpenAI.

Hubungan OpenAI dan Musk Mulai Retak Sejak 2018

Perbedaan pandangan tersebut akhirnya membuat hubungan kedua kubu semakin renggang.

Elon Musk keluar dari OpenAI pada 2018 dan menghentikan dukungan pendanaan rutin yang sebelumnya diberikan.

Menurut Altman, Musk bahkan sempat mengirim email yang menyebut OpenAI hampir mustahil sukses tanpa dirinya.

Namun justru setelah kepergian Musk, OpenAI berkembang pesat dan menjadi salah satu perusahaan AI paling berpengaruh di dunia lewat kehadiran ChatGPT.

Pertarungan AI Kini Bukan Sekadar Teknologi

Perselisihan antara Sam Altman dan Elon Musk kini dianggap lebih dari sekadar konflik bisnis biasa.

Banyak pengamat melihat pertarungan ini sebagai perebutan pengaruh terhadap masa depan AI global, terutama ketika teknologi kecerdasan buatan mulai menjadi pusat persaingan industri teknologi dunia.

Di satu sisi, Musk dikenal vokal memperingatkan bahaya AI yang tidak terkendali. Namun di sisi lain, ia juga aktif membangun proyek AI miliknya sendiri melalui xAI.

Sementara OpenAI terus berkembang menjadi pemain utama dalam perlombaan AI modern bersama raksasa teknologi lainnya.

Konflik terbuka ini memperlihatkan satu hal penting:

masa depan AI kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh siapa yang memegang kendali atasnya.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI