AI bisa meniru manusia dengan sangat baik—tetapi tidak benar-benar menjadi manusia.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Perkembangan kecerdasan buatan beberapa tahun terakhir terasa melompat jauh. Dari sekadar menjawab pertanyaan sederhana, kini AI mampu menulis, berdiskusi, bahkan terlihat “mengerti” manusia. Di titik ini, muncul satu pertanyaan besar: apakah AI bisa benar-benar sadar?
Jawaban dari Google DeepMind justru cukup tegas—tidak.
Dalam kajian yang dipimpin oleh Alexander Lerchner, disebutkan bahwa model bahasa besar atau Large Language Models (LLM) kemungkinan besar tidak akan pernah memiliki kesadaran, meski kemampuannya terus meningkat.
Makalah berjudul The Abstraction Fallacy: Why AI Can Simulate But Not Instantiate Consciousness menjelaskan satu hal penting: AI hanya mensimulasikan perilaku cerdas.
Artinya, ketika AI terlihat “paham”, sebenarnya ia hanya:
Bukan karena ia benar-benar mengerti.
Tidak ada pengalaman batin, tidak ada perasaan, dan tidak ada kesadaran diri di balik respons tersebut.
Menurut Lerchner, ada batas mendasar yang tidak bisa ditembus oleh AI saat ini.
AI bersifat “bergantung pada pembuat peta” (mapmaker-dependent). Sederhananya, AI hanya bisa bekerja jika manusia:
Tanpa itu, AI tidak punya “dunia” untuk dipahami.
Berbeda dengan manusia yang belajar dari pengalaman langsung, AI tidak memiliki:
Di sinilah letak perbedaannya. AI bisa terlihat pintar, tapi tidak benar-benar “merasakan”.
Perdebatan soal AI saat ini terbagi dua:
Kelompok optimistis percaya bahwa kesadaran bisa muncul jika sistem cukup kompleks.
Kelompok skeptis menilai kecerdasan dan kesadaran adalah dua hal yang berbeda secara fundamental.
Pandangan dari DeepMind jelas condong ke sisi skeptis.
AI bisa saja menjadi semakin canggih—bahkan sulit dibedakan dari manusia dalam percakapan—tetapi itu tidak berarti ia memiliki kesadaran.
Salah satu poin penting dalam kajian ini adalah konsep “embodiment”—bahwa kesadaran mungkin membutuhkan tubuh fisik.
Manusia memahami dunia melalui:
Sementara AI hanya memproses data.
Tanpa pengalaman langsung, tidak ada dasar bagi AI untuk membangun kesadaran seperti manusia.
Pertanyaan tentang kesadaran AI bukan sekadar teori. Dampaknya bisa sangat besar.
Jika AI suatu saat benar-benar sadar, maka akan muncul isu seperti:
Namun jika AI tetap tidak sadar, maka posisinya akan tetap sebagai alat—meski semakin pintar dan menyerupai manusia.
Kesimpulan dari kajian DeepMind cukup jelas: AI mungkin akan terus berkembang dan terlihat semakin “manusiawi”, tetapi itu hanya di permukaan.
Di balik semua respons cerdasnya, tidak ada pengalaman, tidak ada perasaan, dan tidak ada kesadaran.
AI bisa meniru manusia dengan sangat baik—tetapi tidak benar-benar menjadi manusia.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update