Para ilmuwan juga menilai kondisi alam itulah yang memungkinkan dinosaurus ini berkembang menjadi raksasa secara mandiri tanpa mengikuti pola evolusi titan dari benua lain.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Selama ini, dinosaurus berukuran raksasa lebih sering dikaitkan dengan wilayah Amerika Selatan atau Afrika. Namun penemuan terbaru dari Thailand justru mengubah pandangan tersebut. Para ilmuwan kini mengonfirmasi keberadaan spesies dinosaurus raksasa baru bernama Nagatitan chaiyaphumensis. Dinosaurus ini disebut sebagai salah satu dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan di Asia Tenggara.
Makhluk purba ini diperkirakan hidup lebih dari 100 juta tahun lalu. Hal ini terjadi jauh sebelum kemunculan Tyrannosaurus rex yang populer lewat film dan budaya pop modern.
Penemuan tersebut langsung menarik perhatian dunia paleontologi karena ukuran tubuh Nagatitan dinilai tidak biasa untuk kawasan Asia Tenggara.
Kisah penemuan dinosaurus ini ternyata bermula dari laporan sederhana warga lokal di Provinsi Chaiyaphum pada 2016. Saat itu, fosil besar ditemukan di sekitar tepi kolam umum dan langsung memicu penyelidikan lebih lanjut.
Tim dari Departemen Sumber Daya Mineral Thailand kemudian melakukan proses ekskavasi selama bertahun-tahun. Setelah penelitian panjang selesai pada 2024, ilmuwan akhirnya memastikan bahwa fosil tersebut berasal dari spesies dinosaurus baru yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Hasil riset tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Scientific Reports dan langsung menjadi perhatian komunitas sains internasional.
Dari hasil rekonstruksi sementara, Nagatitan chaiyaphumensis diperkirakan memiliki panjang mencapai 27 meter dengan bobot sekitar 27 ton. Bobot ini setara sembilan gajah dewasa.
Meski bagian tengkorak belum ditemukan, ilmuwan berhasil mengidentifikasi struktur tubuh dari tulang belakang, rusuk, dan anggota gerak. Semua bagian itu tertanam dalam batuan berusia sekitar 113 juta tahun.
Salah satu hal paling menarik adalah bentuk tungkai depan Nagatitan yang lebih panjang. Panjangnya melebihi beberapa kerabat sauropoda raksasa lain dari Amerika Selatan.
Karakter unik ini membuat ilmuwan menduga bahwa spesies tersebut mengalami jalur evolusi berbeda. Hal ini terjadi akibat kondisi lingkungan Asia Tenggara pada masa Periode Kapur.
Banyak orang membayangkan Thailand purba dipenuhi hutan hujan lebat seperti saat ini. Padahal, menurut peneliti, kondisi wilayah tersebut pada era dinosaurus justru lebih menyerupai semak terbuka yang kering.
Lingkungan seperti itu dianggap ideal bagi dinosaurus pemakan tumbuhan berukuran besar. Nagatitan diyakini menghabiskan sebagian besar waktunya menjelajahi area luas untuk memakan vegetasi seperti konifer dan pakis berbiji.
Para ilmuwan juga menilai kondisi alam itulah yang memungkinkan dinosaurus ini berkembang menjadi raksasa secara mandiri. Dinosaurus tersebut tumbuh tanpa mengikuti pola evolusi titan dari benua lain.
Penemuan Nagatitan chaiyaphumensis bukan sekadar menambah daftar spesies dinosaurus baru. Temuan ini membuka petunjuk penting soal bagaimana kelompok titanosaurlike di Asia berevolusi secara terpisah dari dinosaurus raksasa lain di dunia.
Karena itulah, sebagian peneliti menjulukinya sebagai “titan terakhir” dari Asia Tenggara.
Saat ini, rekonstruksi ukuran tubuh Nagatitan sudah mulai dipamerkan di museum di Bangkok. Rekonstruksi itu menjadi salah satu daya tarik baru bagi publik maupun peneliti yang ingin melihat gambaran dinosaurus raksasa tersebut secara langsung.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update