Tren harga prosesor AMD dan Intel melonjak hingga 10 persen di awal 2026. Simak penyebab Agentic AI memicu krisis stok CPU dan prediksi kenaikan harga selanjutnya.
Bandar Lampung (Lampost.co) – Kabar kurang sedap menghampiri para perakit PC dan antusias teknologi di tahun 2026. Setelah sempat stabil, harga prosesor dari dua raksasa dunia, AMD dan Intel, dilaporkan mulai merangkak naik secara signifikan. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, lonjakan harga menyentuh angka 10 persen. Ini adalah sebuah tren yang diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Jika tahun-tahun sebelumnya fokus pasar tertuju pada kelangkaan kartu grafis (GPU) akibat demam kecerdasan buatan generatif, kini peta kekuatan bergeser. Munculnya Agentic AI yang menjadi tren utama di tahun 2026 memaksa pusat data (datacenter) untuk kembali memburu prosesor (CPU) berperforma tinggi.
Berbeda dengan AI standar, Agentic AI bekerja secara otonom dalam menyelesaikan alur kerja (workflow) yang kompleks. Teknologi ini membutuhkan kemampuan pencarian database dan logika pemrosesan yang cepat. Dalam hal ini, CPU memegang peranan lebih krusial dibandingkan GPU dalam skenario tertentu. Alhasil, permintaan terhadap prosesor kencang kembali meledak. Hal tersebut memicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar global.
Berdasarkan data terbaru dari CTEE per April 2026, harga unit CPU baik dari kubu merah (AMD) maupun kubu biru (Intel) telah mengalami eskalasi sebesar 5 hingga 10 persen hanya dalam waktu 30 hari. Para analis pasar memperingatkan bahwa ini hanyalah gelombang pertama. Situasi ini mengingatkan kita pada krisis GPU beberapa tahun silam. Saat itu, stok menipis dan harga melambung di luar nalar.
Selain faktor permintaan AI, kendala teknis pada jalur produksi juga menjadi pemicu. Prosesor generasi terbaru tahun 2026 menggunakan node pemrosesan paling mutakhir yang kapasitas produksinya harus berbagi dengan komponen canggih lainnya. Perebutan slot produksi di pabrikan semikonduktor membuat volume distribusi ke pasar ritel menjadi tersendat.
Bagi konsumen yang berencana melakukan upgrade perangkat, menunda pembelian mungkin bukan pilihan bijak saat ini. AMD sendiri dikabarkan telah menyiapkan skema penyesuaian harga sebanyak dua kali pada kuartal kedua (Q2) dan kuartal ketiga (Q3) tahun 2026.
Akumulasi kenaikan harga dari AMD diprediksi akan mencapai angka fantastis, yakni 16 hingga 17 persen pada akhir tahun nanti. Sementara itu, Intel diperkirakan akan mengikuti langkah serupa dengan proyeksi kenaikan sekitar 8 hingga 10 persen pada semester kedua tahun ini.
Melihat tren yang terus menanjak, para pakar hardware menyarankan beberapa langkah antisipasi:
Kondisi pasar teknologi di tahun 2026 ini memang penuh tantangan. Dengan peran CPU yang semakin vital dalam ekosistem kecerdasan buatan yang kian mandiri, konsumen dipaksa untuk lebih jeli dalam mengatur strategi belanja komponen PC. Hal ini agar tidak terjebak dalam pusaran harga yang kian melambung tinggi.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update