Semua manuver ini diyakini menjadi bagian dari persiapan menuju generasi konsol berikutnya.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Ada masa ketika lampu hijau di sudut ruang tamu menjadi simbol revolusi baru industri gim. Awal 2000-an, nama XBOX hadir bukan sekadar konsol, tetapi identitas yang terasa berbeda dibanding rivalnya. Kini, setelah lebih dari dua dekade berlalu, Microsoft tampaknya ingin menghidupkan kembali perasaan itu.
Perusahaan teknologi tersebut mulai mengubah identitas brand gaming mereka menjadi “XBOX” dengan seluruh huruf kapital. Sekilas terlihat sederhana, hanya soal tipografi. Namun di balik perubahan kecil itu, tersimpan pesan besar: Microsoft ingin membawa kembali aura era emas XBOX yang dulu begitu kuat di mata gamer.
Perubahan ini muncul tidak lama setelah CEO baru XBOX, Asha Sharma, mulai mengambil langkah agresif dalam membenahi divisi gaming Microsoft. Menariknya, keputusan tersebut bukan diambil secara sepihak. Sharma justru mengajak komunitas ikut menentukan arah identitas brand lewat polling di media sosial X pada 14 Mei 2026.
Hasilnya cukup telak. Dari lebih dari 19 ribu partisipan, hampir 65 persen memilih format “XBOX” dengan huruf kapital penuh. Tidak butuh waktu lama, akun resmi mereka di platform X langsung ikut berganti nama. Meski begitu, perubahan total tampaknya masih berlangsung bertahap karena beberapa kanal lain seperti Instagram, Facebook, Threads, hingga situs resmi masih memakai gaya penulisan lama.
Bagi banyak gamer lama, perubahan ini terasa seperti sinyal emosional. Huruf kapital “XBOX” mengingatkan pada masa ketika konsol generasi pertama mereka hadir membawa game-game ikonik dan identitas visual hijau yang khas. Nuansa itulah yang kini mulai dikembalikan oleh Sharma.
Bukan cuma nama, warna hijau klasik yang sempat memudar juga mulai dihidupkan lagi dalam berbagai materi branding terbaru. Bahkan divisi “Microsoft Gaming” disebut perlahan kembali diarahkan menggunakan nama XBOX secara lebih dominan.
Langkah nostalgia ini sebenarnya datang di waktu yang cukup krusial. Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft menghadapi tekanan akibat penjualan hardware yang menurun dan kritik dari komunitas terkait arah bisnis mereka. Kampanye “This is an Xbox” misalnya, sempat menuai respons negatif karena dianggap membuat identitas konsol mereka menjadi kabur.
Kini pendekatannya berubah. XBOX tampaknya ingin kembali menjadi “rumah” bagi gamer konsol, bukan sekadar layanan lintas perangkat.
Perubahan arah itu juga mulai terlihat dari evaluasi kebijakan eksklusivitas game. Setelah sebelumnya beberapa judul eksklusif dirilis ke platform pesaing seperti PlayStation 5 dan Nintendo Switch 2, Microsoft disebut mulai mempertimbangkan ulang strategi tersebut demi menjaga loyalitas komunitas inti mereka.
Sementara itu, layanan Game Pass juga ikut disesuaikan. Microsoft kabarnya tengah menyiapkan harga baru yang lebih kompetitif untuk tier Ultimate. Di sisi lain, ada pula rumor soal tier khusus pasar Tiongkok hingga evaluasi akses day-one untuk franchise besar seperti Call of Duty.
Semua manuver ini diyakini menjadi bagian dari persiapan menuju generasi konsol berikutnya. Proyek yang sementara dikenal dengan nama “Project Helix” disebut akan menjadi titik penentu apakah strategi nostalgia XBOX benar-benar mampu membawa Microsoft kembali bersaing di puncak industri gaming.
Menariknya, di tengah era ketika banyak perusahaan teknologi berlomba tampil modern dan minimalis, Microsoft justru memilih menoleh ke belakang. Mereka sadar, kadang kekuatan terbesar sebuah brand bukan hanya teknologi baru, melainkan kenangan yang pernah melekat kuat di kepala penggunanya.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update