Bandar Lampung (Lampost.co) — Peta kekuatan industri smartphone di India mengalami pergeseran fundamental pada kuartal pertama 2026. India selama ini dikenal sebagai pasar yang sensitif terhadap harga. Sekarang, India bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan perangkat premium di Asia. Pertumbuhan segmen premium ini bahkan melampaui segmen kelas menengah dan bawah.
Laporan terbaru dari firma riset pasar teknologi global menunjukkan bahwa pengapalan unit untuk kategori ponsel di atas 50.000 Rupee (sekitar Rp9,5 juta) melonjak hingga 35 persen secara tahunan (year-on-year). Tren ini didorong oleh kemudahan akses pembiayaan digital. Selain itu, obsesi konsumen terhadap fitur kecerdasan buatan (GenAI) yang hanya tersedia di model-model kelas atas semakin mendorong tren tersebut.
Dominasi Apple dan Samsung di Puncak Piramida
Dalam daftar lima besar penguasa pasar di India, Samsung dan Apple kini memegang kendali atas nilai pasar (market value) secara signifikan. Samsung mempertahankan posisi teratas berkat peluncuran seri Galaxy S26 dan lini ponsel lipat Galaxy Z Fold 7. Selain itu, Samsung berhasil dengan integrasi penuh ekosistem AI yang lebih matang di awal 2026.
Sementara itu, Apple mencatatkan rekor baru dalam sejarah operasionalnya di India. Dengan ekspansi produksi lokal yang kini mencakup model Pro Max, harga iPhone 17 Pro di pasar domestik India menjadi lebih kompetitif. Akibatnya, pangsa pasar Apple terus meroket dan memperkecil jarak dengan vendor yang mengandalkan volume penjualan murah.
Kekuatan Lima Besar: Perubahan Strategi Vendor Tiongkok
Di bawah persaingan dua raksasa tersebut, tiga vendor lainnya yakni Vivo, Xiaomi, dan Realme, juga mulai mengubah strategi mereka di tahun 2026:
1. Vivo: Menempati posisi ketiga dengan fokus pada seri X yang menonjolkan kemampuan kamera profesional hasil kolaborasi dengan Zeiss.
2. Xiaomi: Berhasil bangkit lewat lini premium Xiaomi 16 Series yang mengandalkan kemitraan dengan Leica, meninggalkan citra vendor “ponsel murah”.
3. Realme: Tetap agresif di posisi kelima dengan mengandalkan teknologi pengisian daya tercepat di dunia yang diaplikasikan pada seri GT mereka.
Faktor Pendorong: Kredit Instan dan Gengsi Digital
Analis industri mencatat bahwa “Premiumisasi” di India pada 2026 bukan sekadar tren sesaat. Skema tukar tambah (trade-in) yang agresif dan cicilan tanpa bunga hingga 36 bulan menjadi motor penggerak utama. Selain itu, konsumen di kota-kota Tier-1 dan Tier-2 kini tidak lagi ragu untuk melakukan upgrade ke perangkat flagship. Tujuannya adalah demi mendapatkan performa AI yang lebih cerdas dan status sosial di ranah digital.
Prediksi Sisa Tahun 2026
Diperkirakan hingga akhir tahun 2026, kontribusi segmen premium terhadap total pendapatan pasar smartphone di India akan mencapai angka psikologis 40 persen. Kondisi ini memaksa para manufaktur untuk terus berinovasi pada material bodi dan ketahanan baterai. Selain itu, manufaktur juga harus mengembangkan kapabilitas pemrosesan AI lokal di dalam perangkat (on-device AI) guna memenangkan hati konsumen India yang semakin selektif.








