Beberapa perusahaan seperti Valve dan Nintendo bahkan disebut mengalami situasi serupa untuk perangkat generasi berikutnya.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Sony mulai memberi sinyal bahwa peluncuran PlayStation 6 tidak akan semulus yang dibayangkan para gamer. Di tengah tingginya antusiasme terhadap konsol generasi baru tersebut, Sony justru mengaku masih ragu menentukan jadwal rilis dan harga resmi PS6.
Penyebab utamanya datang dari krisis RAM global yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini membuat biaya produksi perangkat keras terus melonjak dan diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa tahun ke depan.
Dalam laporan keuangan terbaru, Presiden sekaligus CEO Sony, Hiroki Totoki, mengungkapkan bahwa perusahaan masih memantau situasi pasar sebelum mengambil keputusan besar terkait PS6.
Kelangkaan pasokan memori disebut menjadi masalah paling serius karena berdampak langsung pada biaya komponen utama konsol. Akibatnya, Sony belum berani memastikan kapan PS6 akan diluncurkan dan berapa harga yang akan dipatok untuk pasar global.
Sony kini memilih melakukan berbagai simulasi model bisnis untuk menghadapi lonjakan biaya produksi yang terus meningkat. Langkah ini dianggap penting agar konsol baru mereka tetap kompetitif tanpa membebani konsumen secara berlebihan.
Kekhawatiran terbesar gamer saat ini bukan hanya soal jadwal rilis, tetapi juga kemungkinan harga PS6 yang jauh lebih mahal dibanding generasi sebelumnya.
Sebagai gambaran, harga PlayStation 5 Pro saat ini sudah menyentuh sekitar USD 899 atau setara Rp15 jutaan. Jika krisis RAM global terus berlangsung, sejumlah analis memperkirakan PS6 bisa dijual di atas USD 1.000 atau sekitar Rp17 juta lebih.
Prediksi tersebut langsung memicu perdebatan di kalangan gamer. Banyak yang khawatir harga terlalu tinggi akan membuat PS6 sulit dijangkau, terutama di pasar Asia termasuk Indonesia.
Masalah yang dihadapi Sony ternyata juga mulai dirasakan perusahaan teknologi lain. Industri gaming global saat ini sedang menghadapi tekanan besar akibat naiknya harga komponen dan terbatasnya pasokan memori.
Beberapa perusahaan seperti Valve dan Nintendo bahkan disebut mengalami situasi serupa untuk perangkat generasi berikutnya.
Kondisi ini membuat banyak produsen mulai berhitung ulang soal strategi peluncuran hardware baru. Tidak sedikit yang memilih menunda perilisan demi menghindari lonjakan harga ekstrem.
Di tengah ketidakpastian PS6, penjualan PlayStation 5 sebenarnya masih tergolong kuat. Total distribusi global PS5 dikabarkan telah mencapai lebih dari 93 juta unit.
Meski demikian, tren pertumbuhannya mulai melambat jika dibandingkan dengan era PS4 pada periode yang sama. Karena itu, Sony diperkirakan akan memperpanjang usia PS5 agar tetap menjadi sumber pendapatan utama sambil menunggu kondisi pasar lebih stabil.
Strategi ini juga dinilai masuk akal mengingat biaya produksi konsol generasi baru saat ini jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu.
Di sisi lain, rumor soal desain PS6 terus bermunculan. Beberapa bocoran menyebut Sony tengah menyiapkan versi hybrid atau handheld yang bisa dimainkan secara portable.
Meski belum ada konfirmasi resmi, konsep tersebut dianggap sebagai upaya Sony mengikuti tren perangkat gaming fleksibel yang kini semakin diminati pasar.
Sony sendiri tetap optimis industri game akan kembali mengalami lonjakan besar, terutama dengan hadirnya game-game raksasa seperti Grand Theft Auto VI yang diprediksi menjadi pendorong utama penjualan konsol generasi baru.
Namun satu hal mulai terlihat jelas: era konsol murah tampaknya perlahan akan berakhir. Jika krisis komponen terus berlanjut, gamer kemungkinan harus siap menghadapi harga perangkat gaming yang jauh lebih mahal dibanding generasi sebelumnya.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update