Bandar Lampung (Lampost.co): Aroma sayur santan, tumis sayuran, hingga kue tradisional langsung menyergap serambi Masjid Al-Ibtida’ul Qorib, Dusun Wonogiri, Desa Bumi Daya, Lampung Selatan, Rabu malam, 18 Februari 2026. Warga datang membawa nampan, kantong plastik, dan rantang dari rumah masing-masing. Mereka meletakkan hidangan itu berjajar rapi di pelataran masjid, seolah menghadirkan pesta kecil penuh makna.
Malam itu, warga Dusun Wonogiri tidak hanya menunaikan tarawih perdana. Mereka menghidupkan tradisi munggahan, kebiasaan turun-temurun untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini terus mereka rawat sebagai penanda bahwa Ramadan segera tiba dan hati harus bersiap.
Usai salat Isya dan tarawih berjemaah, warga tidak langsung menyentuh hidangan. Mereka membentuk saf dengan tertib. Imam masjid memimpin doa, dan seluruh jemaah mengikuti dengan khusyuk. Suasana berubah hening. Tangan-tangan terangkat, bibir-bibir bergetar melantunkan harap. Suara “aamiin” mengalun lirih dan saling bersahutan.
Mereka memohon umur panjang, kesehatan, serta kekuatan untuk menjalani ibadah puasa. Mereka menaruh harapan agar Ramadan tahun ini menghadirkan keberkahan dan membawa diri menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Dalam doa itu, setiap kepala keluarga, setiap anak, dan setiap orang tua menyelipkan harapan pribadi sekaligus harapan bersama.
Selesai doa, warga segera menggelar hidangan. Mereka menikmati makanan bersama di dalam masjid maupun di halaman. Anak-anak duduk berjejer sambil melirik lauk yang tersaji. Para ibu membuka wadah makanan dan membagi nasi. Para bapak membantu menata dan membagikan porsi. Semua bergerak tanpa komando, seolah kebersamaan itu mengalir begitu saja.
Tawa ringan pecah di antara suapan. Obrolan hangat mengisi sela-sela malam. Warga saling menyapa, saling berbagi cerita, dan saling menguatkan. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang temu yang mengikat hati.
“Setiap tahun kami selalu lakukan ini. Kami bawa makanan seadanya dari rumah, lalu kami makan bersama setelah salat dan doa,” ujar salah satu jamaah.
Kebersamaan
Warga tidak menetapkan aturan tentang jenis hidangan. Ada yang membawa nasi lengkap dengan lauk pauk, ada yang menyuguhkan kue tradisional, ada pula yang menghadirkan jajanan sederhana. Mereka menyatukan semua makanan tanpa membedakan siapa membawa apa. Mereka menempatkan kebersamaan sebagai inti tradisi.
Bagi warga Dusun Wonogiri, munggahan bukan sekadar makan bersama. Mereka menjadikannya simbol syukur karena masih mendapat kesempatan bertemu Ramadan. Mereka meneguhkan rasa persaudaraan sebelum memasuki bulan penuh ibadah. Di Masjid Al-Ibtida’ul Qorib, tradisi itu terus tumbuh, mengikat generasi lama dan generasi muda dalam satu meja kebersamaan, satu doa, dan satu harapan menyambut Ramadan. (Intan/Magang Kemenaker)








