Jakarta (Lampost.co) — Harga emas dunia mendadak melemah setelah mencatat reli empat hari beruntun seiring tekanan jual dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menguat sehingga investor mengamankan keuntungan.
Pada Selasa, 24 Februari 2026, harga emas turun 1,6 persen ke level 5.147,80 dolar AS per troy ons. Koreksi itu menghentikan reli sebelumnya yang mencapai 7,3 persen. Penurunan tersebut sempat menyeret emas ke kisaran 5.100 dolar AS per troy ons.
Memasuki Rabu, 25 Februari 2026 pukul 06.26 WIB, harga emas spot kembali turun 0,33 persen. Posisi terakhir tercatat di 5.130,59 dolar AS per troy ons.
Dolar AS Menguat, Emas Kehilangan Tenaga
Penguatan indeks dolar AS menjadi pemicu utama koreksi emas. Pada Rabu, indeks dolar AS naik 0,18 persen ke level 97,88.
Kenaikan itu terjadi setelah dua hari sebelumnya dolar melemah. Dolar yang menguat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kondisi tersebut biasanya menekan minat beli emas global. Ia menambahkan bahwa dolar yang lebih tinggi memberi tekanan tambahan terhadap harga emas.
Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals, melihat penurunan itu sebagai koreksi teknikal. “Harga emas sudah cenderung naik lagi, jadi saya menduga itu hanya koreksi penurunan,” ujarnya.
Ketidakpastian Tarif dan Negosiasi Iran-AS
Sebelumnya, emas sempat menyentuh level tertinggi tiga minggu. Lonjakan itu terjadi setelah Presiden Donald Trump berjanji menaikkan tarif menjadi 15 persen.
Langkah tersebut muncul setelah Mahkamah Agung memutuskan penggunaan undang-undang darurat untuk tarif melampaui kewenangan.
Namun, pada Selasa, pemerintah AS resmi memberlakukan tarif 10 persen untuk barang yang tidak dikecualikan. Pasar kini menunggu kejelasan lanjutan mengenai kebijakan tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran akan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa. Ketegangan geopolitik antara kedua negara terus membayangi pasar. Wyckoff menilai permintaan safe haven masih kuat.
“Anda masih memiliki permintaan aset safe-haven yang kuat, dengan ketegangan Iran-AS dan ketidakpastian tarif yang membatasi penjualan emas, menjaga fundamental tetap mendukung. Tetapi, ketika harga mendekati rekor tertinggi, mereka akan menghadapi resistensi yang kuat, dan mendorong ke level tertinggi baru kemungkinan akan membutuhkan katalis geopolitik baru,” ujarnya.
Faktor The Fed dan Risiko Struktural
Presiden Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic, juga memberikan pandangan penting. Ia menilai AS berpotensi memasuki fase pengangguran struktural lebih tinggi.
Perusahaan mulai mengadopsi kecerdasan buatan untuk efisiensi tenaga kerja. Perubahan itu bisa membatasi efektivitas kebijakan suku bunga rendah. Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian arah ekonomi AS.
Harga Perak Ikut Tertekan
Tak hanya emas, harga perak juga turun setelah reli empat hari. Pada Selasa, perak melemah 1 persen ke 87,33 dolar AS per troy ons.
Pada Rabu pagi, harga perak kembali turun 0,52 persen ke 86,88 dolar AS. Pergerakan logam mulia kini sangat dipengaruhi arah dolar dan dinamika geopolitik.
Prospek Jangka Pendek Emas
Secara fundamental, emas tetap menarik sebagai lindung nilai. Ketidakpastian tarif dan risiko konflik menjaga minat investor. Namun, setiap kali harga mendekati rekor tertinggi, tekanan jual cenderung muncul.
Dalam jangka pendek, pasar akan fokus pada arah dolar AS dan hasil negosiasi Iran-AS. Kedua faktor itu berpotensi menentukan arah emas selanjutnya.








