Jakarta ( Lampost.co) — Harga emas global kehilangan momentum dalam beberapa pekan terakhir. Padahal, kondisi geopolitik biasanya mendorong kenaikan harga logam mulia.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas sempat menyentuh puncak di kisaran US$5.596 per troy ons pada akhir Januari 2026. Namun, harga kini turun ke level US$4.400-an.
Pergerakan harga emas kali itu tidak lepas dari perubahan strategi bank sentral. Dalam tiga tahun terakhir, bank sentral menjadi pembeli terbesar emas dunia.
Sejak 2022, mereka menyerap hampir 1.000 ton emas setiap tahun. Aksi tersebut menciptakan tren bullish yang kuat di pasar.
Namun, situasi berubah drastis sejak awal 2026. Bank sentral mulai melepas cadangan emas ke pasar.
Perubahan itu langsung meningkatkan suplai global. Akibatnya, harga emas mengalami tekanan signifikan.
Lonjakan Harga Energi Picu Tekanan Likuiditas
Menurut analisis BullionVault, kenaikan harga energi menjadi pemicu utama perubahan arah tersebut.
Gangguan distribusi minyak mendorong harga melampaui US$100 per barel. Negara importir energi membutuhkan lebih banyak dolar untuk transaksi.
Kondisi itu menekan mata uang domestik, terutama di negara berkembang. Bank sentral harus bertindak cepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Emas menjadi aset likuid yang mudah dijual. Bank sentral menjual emas untuk mendapatkan dolar dalam waktu singkat.
Studi Kasus: Turki, Rusia, dan Polandia
Turki menjadi contoh paling jelas. Berdasarkan laporan Bloomberg, bank sentral Turki menjual sekitar 60 ton emas.
Nilai penjualan tersebut mencapai sekitar US$8 miliar. Langkah itu bertujuan menahan pelemahan lira terhadap dolar AS. Sebagian transaksi dilakukan melalui skema swap di Bank of England.
Sementara itu, Rusia mengambil langkah berbeda. Negara itu mulai menjual emas sejak 2025 untuk membiayai kebutuhan perang.
Cadangan emas Rusia kini berada di level terendah dalam empat tahun. Nilai penjualan mencapai sekitar US$2,4 miliar pada awal 2026.
Di sisi lain, Polandia belum menjual emas secara langsung. Namun, sinyal kebijakan memengaruhi pasar.
Bank sentral Polandia mempertimbangkan monetisasi cadangan emas. Potensi dana yang bisa terhimpun mencapai US$13 miliar.
Permintaan Melemah, Tekanan Harga Meningkat
Permintaan emas dari bank sentral mulai menurun. Pada 2025, porsinya turun di bawah 25 persen dari total permintaan global. Sebelumnya, angka itu mencapai sekitar 33 persen selama tiga tahun terakhir.
Penurunan itu mengubah keseimbangan pasar. Suplai meningkat, sementara permintaan melemah.
Tekanan semakin besar karena investor juga melepas aset. ETF emas mencatat arus keluar terbesar dalam lebih dari dua tahun.
Arah Harga Emas Ditentukan Dua Faktor Kunci
Ke depan, pergerakan harga emas akan bergantung pada dua faktor utama. Pasar akan fokus pada nilai tukar mata uang dan harga energi.
Jika tekanan terhadap mata uang meningkat, bank sentral bisa kembali menjual emas. Kondisi itu berpotensi menekan harga lebih dalam.
Sebaliknya, jika stabilitas kembali, permintaan emas bisa pulih. Investor akan kembali melihat emas sebagai aset lindung nilai.








