PLN Siap Jadi Penggerak Transisi Energi melalui ASEAN Power Grid

Kolaborasi lintas negara ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menjadi tonggak penting menuju kemandirian energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emissions 2060.

Editor Lulu
Minggu, 05 Oktober 2025 23.10 WIB
PLN Siap Jadi Penggerak Transisi Energi melalui ASEAN Power Grid
Foto udara saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 kiloVolt (KV) Bengkayang – Singkawang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. (DOK. PLN)

Labuan Bajo (Lampost.co) — PT PLN (Persero) menegaskan komitmennya memperkuat kerja sama energi lintas negara melalui proyek ASEAN Power Grid (APG). Langkah strategis ini menjadi kunci percepatan transisi energi bersih, penguatan ketahanan energi kawasan, dan pencapaian target net zero emissions (NZE) di Asia Tenggara.

Poin Penting:

  • PLN aktif mendorong pembentukan ASEAN Power Grid untuk memperkuat ketahanan energi regional.

  • ASEAN Power Grid menjadi langkah strategis mencapai target Net Zero Emissions.

  • Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW hingga 2034, 76% dari EBT.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam The 41st Heads of ASEAN Power Utilities/Authorities (HAPUA) Council Meeting di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat, 3 Oktober 2025. Forum ini menjadi ajang penting bagi negara-negara ASEAN untuk menyusun strategi integrasi sistem kelistrikan hijau dan memperkuat kolaborasi regional.

PLN dan ASEAN Dorong Integrasi Energi Bersih

Executive Director ASEAN Centre for Energy (ACE), Ir. Ts. Abdul Razid Dawood, menilai ASEAN Power Grid akan menjadi tonggak utama integrasi energi di Asia Tenggara. Menurutnya, proyek ini memastikan dapat mengakses energi bersih dapat terjangkau, berkelanjutan, dan merata di seluruh kawasan.

Baca juga: PLN Nusantara Power UP Sebalang Tanam 100 Pohon untuk Bumi dan Ekonomi Warga

“ASEAN Power Grid akan meningkatkan ketahanan energi semua negara anggota ASEAN. Tantangannya adalah memastikan keterjangkauan dan keberlanjutan energi dalam upaya menurunkan emisi karbon,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Wanhar, menegaskan hasil pertemuan HAPUA menjadi fondasi penting penyusunan ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) Phase III 2026—2030.

“Fase baru ini menekankan kerja sama lintas sektor, peningkatan ketahanan energi, serta transformasi energi yang adil dan inklusif,” jelasnya.

Ia juga menambahkan dalam 43rd ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM) mendatang, para menteri Energi ASEAN akan menandatangani dan mengesahkan enhanced memorandum of understanding (MoU) ASEAN Power Grid sebagai komitmen bersama memperkuat jaringan listrik lintas negara.

PLN Fokus Wujudkan Energi Berkelanjutan

Sementara itu, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan Indonesia kini tengah menjalankan transformasi besar menuju kemandirian energi berkelanjutan. Ia menegaskan PLN memiliki tanggung jawab besar menyediakan energi yang andal, terjangkau, dan rendah emisi.

“Dengan energi yang terjangkau, kita bisa mengundang investasi, membuka lapangan kerja, menghapus kemiskinan, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Darmawan.

Menurut Darmawan, hingga 2034 Indonesia akan menambah 69,5 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit baru, dengan 76 persen, di antaranya bersumber dari energi baru terbarukan (EBT). Namun, tantangan terbesar adalah ketidaksesuaian antara lokasi potensi EBT dan pusat permintaan listrik nasional.

Oleh karena itu, jaringan interkoneksi ASEAN Power Grid menjadi solusi strategis. Melalui jaringan ini, negara-negara ASEAN dapat saling berbagi energi, menyeimbangkan sistem kelistrikan, dan memperkuat stabilitas energi kawasan.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Solusinya adalah kolaborasi lintas negara — kolaborasi strategi, teknologi, dan investasi,” kata Darmawan.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI