Dari Layar ke Perlawanan Nyata: ACFFest Movie Day 2026 Hidupkan Diskusi Antikorupsi di Lampung

Editor Adi Sunaryo
Rabu, 29 April 2026 19.34 WIB
Dari Layar ke Perlawanan Nyata: ACFFest Movie Day 2026 Hidupkan Diskusi Antikorupsi di Lampung
ACFFest Movie Day Lampung 2026, komunitas Klub Nonton menghadirkan pengalaman menonton yang melampaui layar.

Bandar Lampung (Lampost.co)— ACFFest Movie Day Lampung 2026, komunitas Klub Nonton menghadirkan pengalaman menonton yang melampaui layar. Dalam tiga hari berturut-turut, ruang-ruang publik di Lampung berubah menjadi ruang refleksi bersama. Bukan hanya tentang film, tetapi tentang integritas, pilihan moral, dan keberanian untuk bersikap. Yakni menjadi pemantik diskusi tentang realitas korupsi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penyelenggaraan pada 22, 25, dan 26 April 2026 di tiga titik, yaitu Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Alun-Alun Desa Jatibaru Tanjung
Bintang Lampung Selatan, dan Gedung Dewan Kesenian Lampung, kegiatan ini
merupakan bagian dari kampanye Anti-Corruption Film Festival (ACFFest) dengan inisiasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Baca juga: Film Biopik Michael Jackson Cetak Rekor Dunia: Raup Rp3,4 Triliun!

Mengusung semangat “Dari Lensa, Integritas Terjaga!”, program ini menyatukan
mahasiswa, sineas, akademisi, hingga masyarakat umum dalam satu benang
merah: membicarakan korupsi dengan cara yang lebih membumi dan relevan.
Ada total 11 film pendek terbaik dari katalog ACFFest yang ditayangkan pada
rangkaian kegiatan ini: Revisi Final “Banget”; Ada Yang Salah Dengan Cinta; Pelat
Merah; Rahasia Umum; Terciduk!; Unbaedah; Sandal Bupati; Jebakan P, Jebakan
P!; Balik Nama; How To Be An Actor; dan Pirates of Sepuluh Ribuan. Yakni film-film ini
menghadirkan potret keseharian yang seringkali luput disadari sebagai bagian dari
praktik korupsi.

Alih-alih menggurui, film-film ini berbicara tentang nilai-nilai antikorupsi dengan cara
yang ringan, dekat, bahkan jenaka. Namun tetap menyisakan ruang kontemplasi
yang kuat bagi penontonnya.

Koordinator Klub Nonton, Nada Bonang, menegaskan bahwa kekuatan film terletak
pada kemampuannya untuk menghadirkan isu kompleks menjadi pengalaman yang
personal.

“Kami percaya bahwa film adalah medium yang paling jujur untuk mengajak orang
bercermin. Ketika penonton melihat cerita yang terasa dekat dengan hidup mereka,
di situlah percakapan dimulai. ACFFest Movie Day ini bukan hanya tentang
menonton, tapi tentang membuka ruang—ruang untuk bertanya, berdiskusi, bahkan mungkin merasa tidak nyaman, karena dari situlah kesadaran bisa tumbuh,” ujar
Nada Bonang.

Diskusi yang menyusul setelah pemutaran film menjadi titik temu berbagai
perspektif. Di Universitas Lampung, hadir dalam diskusi Aditya Budiman yang
merupakan Koordinator Program ACFFest KPK RI, Vito Frasetya, S.Sos., M.Si.
sebagai perwakilan akademisi yang merupakan dosen Ilmu Komunikasi Universitas
Lampung dan Nada Bonang sebagai perwakilan praktisi film dari Klub Nonton.
Audiens terlibat aktif dalam membedah makna di balik cerita dan mengaitkannya
dengan realitas sosial yang mereka hadapi.

Sementara di Dewan Kesenian Lampung, hadir dalam diskusi Yessy Marga Safitri
sebagai perwakilan Penyuluh Anti Korupsi Wilayah Lampung. Lalu, Dede Safara Wijaya
yang merupakan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Lampung, serta Anggi
Bastiansyah sebagai perwakilan dari Pedia Production sekaligus produser dari film
Revisi Final “Banget”, film Lampung yang mendapatkan nominasi di
penyelenggaraan ACFFest 2021. Audiens secara aktif membahas peran sineas dan
film sebagai medium penggerak dan pembawa perubahan.

Tidak hanya menyasar ruang kampus dan komunitas seni, ACFFest Movie Day juga
hadir di ruang terbuka publik—Alun-Alun Desa Jatibaru, Tanjung Bintang. Di lokasi
ini, kegiatan menjangkau aparatur desa, tenaga pendidik, hingga masyarakat umum,
menjadikan film sebagai medium yang inklusif dan mudah diakses oleh berbagai
lapisan. Pendekatan ini menegaskan bahwa edukasi antikorupsi tidak harus selalu
hadir dalam format formal, tetapi bisa tumbuh dari ruang-ruang kebersamaan yang
hangat dan partisipatif.

Membangun Kesadaran, Menggerakkan Partisipasi

Lebih dari sekadar pemutaran film, kegiatan ini dirancang sebagai ruang tumbuh
bagi kesadaran kolektif. Penonton tidak hanya diajak memahami nilai-nilai seperti
kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian, tetapi juga didorong untuk melihat peran
mereka dalam ekosistem yang lebih besar.

Selain itu, ACFFest Movie Day juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat Lampung
untuk mengenal lebih jauh Anti-Corruption Film Festival (ACFFest), sekaligus
membuka peluang untuk terlibat sebagai kreator maupun partisipan di masa
mendatang.

Nada Bonang juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan ACFFest menjadi
langkah penting dalam memperluas dampak komunitas.

“Sebagai komunitas, kami ingin memastikan bahwa film tidak berhenti sebagai
tontonan. Melalui kolaborasi ini, kami mencoba membawa film menjadi alat edukasi
yang hidup—yang bisa menjangkau lebih banyak orang, di lebih banyak ruang,
dengan cara yang lebih relevan. Dan harapannya, kehadiran acara ini bisa
menumbuhkan semangat berkreasi sineas muda Lampung khususnya untuk
menyuarakan nilai-nilai antikorupsi,” imbuhnya.

ACFFest Movie Day 2026 menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari
hal besar. Kadang, ia lahir dari sebuah cerita sederhana di layar, yang kemudian
mengendap menjadi kesadaran, dan perlahan berubah menjadi sikap.
Dari Lampung, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: melawan korupsi bisa
dimulai dari mana saja—dan film adalah medium yang tepat untuk melakukannya.

Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI