Hajimena (lampost.co) — Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang menggelar kajian rutin atau majelis ilmu dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut berlangsung di musala yang berada di kompleks Direktorat Poltekkes, Jalan Soekarno-Hatta, Hajimena, Lampung Selatan, Jumat (13/02/2026).
Direktur Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang, Dewi Purwaningsih, mengatakan Ramadan merupakan momentum strategis bagi seluruh sivitas akademika untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan. Bulan suci ini, menurutnya, bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebaikan.
“Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan keberkahan. Mari kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperkuat iman dan ketakwaan kepada Allah SWT,” ujarnya.
Saling memaafkan
Ia juga mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk saling memaafkan dalam menyambut Ramadan. Sikap saling memaafkan dinilai penting agar ibadah dapat dijalankan dengan hati yang bersih dan lapang.
Menurut Dewi, lingkungan pendidikan kesehatan seperti Poltekkes harus menjadi teladan, tidak hanya dalam kompetensi akademik dan profesionalitas, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan spiritualitas.
“Sebagai institusi pendidikan tenaga kesehatan, kita tidak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu medis, tetapi juga nilai moral dan spiritual. Ramadan adalah ruang pembelajaran yang sangat bermakna,” katanya.
Tamu Agung
Dalam kajian tersebut, Ustaz Eka Prasetyawan menyampaikan pentingnya persiapan menyeluruh dalam menyambut Ramadan. Ia mengibaratkan Ramadan sebagai tamu agung yang datang membawa limpahan kebaikan.
“Ramadan adalah tamu paling mulia yang membawa potensi amal luar biasa. Maka persiapkan dengan persiapan terbaik,” ujar Eka.
Menurutnya, persiapan itu tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga keilmuan dan spiritual. Umat Islam dianjurkan membekali diri dengan pemahaman tentang fikih puasa agar ibadah yang dijalankan sesuai tuntunan syariat.
Ia menekankan pentingnya mempelajari ketentuan puasa, mulai dari rukun, syarat sah, hal-hal yang membatalkan, hingga adab selama menjalankan ibadah. Dengan pemahaman yang baik, puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana pembentukan akhlak.
Eka juga menjelaskan bahwa dalam Ramadan, setan dibelenggu sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadis. Namun, ia mengingatkan bahwa hawa nafsu manusia tidak otomatis terikat.
“Setan memang dibelenggu selama Ramadan. Tetapi hawa nafsu manusia tidak. Karena itu masih ada yang berbuat maksiat. Kuncinya adalah bagaimana kita mengendalikan diri dengan mendekat kepada Allah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengendalian diri hanya dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas ibadah, seperti salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memperbanyak sedekah.
Ramadan, lanjutnya, juga dikenal sebagai bulan penuh keberkahan di mana pahala dilipatgandakan dibandingkan bulan-bulan biasa. Setiap amal kebaikan, sekecil apa pun, memiliki nilai berlipat di sisi Allah SWT.
“Ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Ramadan adalah momentum memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus hubungan sesama manusia,” kata dia.
Kajian rutin tersebut diikuti sivitas akademika dengan khidmat. Selain sebagai sarana memperdalam pemahaman agama, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan kebersamaan menjelang Ramadan.
Melalui kegiatan majelis ilmu ini, Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang berharap semangat spiritual Ramadan dapat memperkuat integritas, etika, dan profesionalisme seluruh civitas akademika dalam menjalankan tugas pendidikan dan pelayanan kesehatan di Lampung.








