Jakarta (Lampost.co) – Harga emas dunia mengalami penurunan sepanjang pekan ini dan para analis pun memiliki prediksi untuk nilai seminggu ke depan. Nilai logam mulia di pasar spot berada di level US$ 2.652,75 per troy ons, pada Jumat, 4 Oktober 2024. Harga itu turun 0,11% dari hari sebelumnya.
Secara mingguan, harga emas turun 0,21% secara point-to-point. Sentimen negatif terhadap emas karena pengaruh data ketenagakerjaan terbaru dari Amerika Serikat.
Data dari US Bureau of Labor Statistics yang rilis pada Jumat malam waktu Indonesia menunjukkan perekonomian AS menciptakan 254.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) selama September.
Angka itu jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang hanya menciptakan 159.000 pekerjaan. Bahkan, melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan 140.000 lapangan kerja baru. Selain itu, tingkat pengangguran juga turun dari 4,2% pada Agustus menjadi 4,1% pada September.
Kuatnya pasar tenaga kerja membuat investor ragu Federal Reserve akan segera menurunkan suku bunga acuan secara agresif. Meski pasar sebelumnya memperkirakan adanya peluang penurunan suku bunga, data ketenagakerjaan yang solid justru mendukung prospek suku bunga yang stabil atau hanya turun sedikit.
Menurut data dari CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga Federal Funds Rate 25 basis poin (bps) menjadi 4,5-4,75% pada pertemuan November mendatang mencapai 93,4%.
Sementara itu, penurunan suku bunga 50 bps ke 4,25-4,5% hampir tidak ada, alias 0%. Bahkan, ada peluang kecil 6,6% jika The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 4,75-5%.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas lebih menguntungkan saat suku bunga turun. Sebab, hal tersebut menurunkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas. Untuk itu, jika The Fed tidak menurunkan suku bunga secara signifikan, harga emas cenderung tertekan.
Analisis Teknikal Harga Emas
Sementara, untuk harga emas minggu depan ada potensi masih terus mengalami tekanan. Berdasarkan analisis teknikal dengan kerangka waktu mingguan (weekly time frame), harga emas masih berada dalam zona bullish.
Indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan harga emas berada di level 77,53. RSI di atas 50 menandakan emas masih dalam tren bullish.
Namun, investor tetap perlu waspada karena RSI di atas 70 juga menjadi sinyal aset dalam kondisi jenuh beli (overbought). Kondisi overbought itu makin kuat dengan indikator Stochastic RSI yang mencapai 94,88, jauh di atas angka 80, yang juga mengindikasikan kondisi overbought.
Saat ini, harga emas mencapai pivot point di level US$ 2.652 per troy ons. Untuk pekan depan, target support terdekat berada di US$ 2.636 per troy ons. Jika harga emas menembus level tersebut, maka target berikutnya akan berada di US$ 2.625 per troy ons.
Adapun target resisten terdekat untuk emas berada di US$ 2.665 per troy ons. Jika harga berhasil menembus level ini, maka ada peluang untuk harga emas kembali naik menuju US$ 2.680 per troy ons.