BI Jaga Rupiah dan Inflasi Tetap Stabil di Tengah Gejolak Ekonomi Global

Editor Adi Sunaryo, Penulis Antaranews
Kamis, 07 Mei 2026 19.13 WIB
BI Jaga Rupiah dan Inflasi Tetap Stabil di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Ilustrasi inflasi. (dok. Google)

Jakarta (Lampost.co)– Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia, termasuk dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia masih kuat meski pasar keuangan global bergejolak. BI terus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan penguatan kebijakan moneter.

Baca juga: BI Lampung Siapkan Tiga Jurus Jaga Ketahanan Ekonomi

“Nilai tukar rupiah tetap stabil berkat langkah-langkah kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II 2026 di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

BI mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$5,5 miliar selama Januari–Maret 2026, terutama ditopang sektor nonmigas. Selain itu, aliran modal asing mulai kembali masuk pada triwulan II 2026.

Hingga awal Mei 2026, arus modal asing masuk tercatat mencapai US$3,3 miliar, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Cadangan devisa Indonesia juga tetap kuat di level US$148,2 miliar.

Di sisi lain, inflasi nasional pada April 2026 berada di angka 2,42 persen dan masih dalam target pemerintah serta BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Stabilitas harga pangan dan tarif yang pemerintah atur turut menjaga inflasi tetap terkendali.

BI-Rate 4,75 Persen

Untuk memperkuat stabilitas, BI mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen sejak Januari 2026.

BI juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, DNDF, hingga pasar NDF di pusat keuangan global seperti Singapura, Hong Kong, London, dan New York. Selain menjaga stabilitas rupiah, BI memperkuat likuiditas perbankan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Hingga April 2026, BI telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial sebesar Rp427,9 triliun kepada perbankan. Hal ini untuk mendukung sektor prioritas seperti pertanian, hilirisasi industri, perumahan rakyat, UMKM, dan koperasi.

Perry menegaskan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah. Hal ini agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga sekaligus mendukung pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi global.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI