Emas dan Perak Mulai Berlawanan Arah, Analis Bongkar Sinyal Harga Selanjutnya

Situasi geopolitik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar logam mulia global.

Editor Effran
Senin, 11 Mei 2026 11:49 WIB
Emas dan Perak Mulai Berlawanan Arah, Analis Bongkar Sinyal Harga Selanjutnya
Ilustrasi harga jual kembali (buyback) emas.
Iklan Artikel 1

Jakarta (Lampost.co) — Pergerakan emas dan perak mulai menunjukkan arah yang berbeda pada akhir pekan ini. Harga emas melemah tipis, sementara perak justru melesat tajam dalam beberapa hari terakhir.

Situasi geopolitik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar logam mulia global. Ketegangan terkait Selat Hormuz kembali mengguncang pasar setelah Iran menolak pembukaan jalur tersebut oleh Amerika Serikat.

 Harga Emas Sempat Menguat karena Sinyal Perdamaian

Harga emas sempat naik pada perdagangan intraday setelah muncul sinyal kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Harapan meredanya konflik membuat pasar mulai memperhitungkan peluang inflasi yang lebih terkendali dan penurunan tekanan suku bunga global.

Iklan Artikel 2

Mengacu data Refinitiv, harga emas dunia pada Kamis, 7 Mei 2026, tutup di level US$ 4.685,18 per troy ons. Angka itu turun tipis 0,09 persen daripada perdagangan sebelumnya.

Iklan Artikel 3

Namun, pada Jumat pagi, 8 Mei 2026 pukul 06.36 WIB, harga emas kembali menguat 0,21 persen menjadi US$ 4.695 per troy ons.

Harga Emas Bisa Tembus US$ 5.000

Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, melihat peluang kenaikan emas masih terbuka lebar jika konflik benar-benar mereda.

“Jika gencatan senjata bertahan, perang itu bisa ditinggalkan. Aktivitas bisnis kembali normal dengan Selat Hormuz terbuka, saya bisa melihat harga emas menembus US$5.000 per ounce,” ujarnya.

Menurut Bob, pasar saat itu sangat fokus pada perkembangan Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS.

 Konflik Selat Hormuz Masih Bayangi Pasar

Di tengah optimisme damai, situasi kembali memanas setelah pejabat senior Iran menegaskan tidak akan membiarkan AS membuka Selat Hormuz dengan rencana yang dianggap tidak realistis.

Pernyataan tersebut langsung memicu kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga energi biasanya meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi itu membuat bank sentral, termasuk The Fed, cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

 Suku Bunga Tinggi Bisa Tekan Emas

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga tinggi membuat daya tarik emas berkurang.

Investor biasanya beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih besar saat bunga naik. Namun, TD Securities melihat peluang kenaikan emas masih terbuka dalam jangka menengah.

Lembaga itu memprediksi harga emas berpotensi menembus US$ 5.200 per ounce setelah tekanan geopolitik dan inflasi mulai mereda.

“Perubahan arah kebijakan The Fed yang lebih fokus pada pasar tenaga kerja, penurunan imbal hasil obligasi, serta pelemahan dolar AS dapat memicu kembali tren bullish emas,” tulis TD Securities.

 Perak Justru Melonjak Tajam

Berbeda dari emas, harga perak terus menunjukkan penguatan agresif. Data Refinitiv mencatat harga perak pada Kamis, 7 Mei 2026, tutup di level US$ 78,48 per troy ons. Harga tersebut melonjak 1,5 persen dalam sehari.

Bahkan, dalam tiga hari terakhir, harga perak naik hampir 8 persen. Pada Jumat pagi, harga perak kembali melesat 0,76 persen menjadi US$ 79,07 per troy ons.

Kenaikan cepat perak membuat banyak pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian ke logam tersebut. Selain menjadi aset investasi, perak juga memiliki permintaan tinggi dari sektor industri dan teknologi. Kondisi itu membuat pergerakan perak lebih agresif daripada emas dalam beberapa pekan terakhir.

 Pasar Tunggu Data Penting AS

Pelaku pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan rilis dalam waktu dekat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed sepanjang 2026.

Di sisi lain, bank sentral China juga terus menambah cadangan emasnya selama 18 bulan berturut-turut hingga April 2026. Langkah tersebut menunjukkan permintaan emas dari bank sentral global masih tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI