Bandar Lampung (Lampost.co) — Geliat ekonomi kerakyatan prediksinya akan meningkat saat bulan Ramadan mendatang.
Ketersediaan kebutuhan pokok dan stabilitas harga menjadi sorotan dan perlu mendapatkan perhatian khusus.
Akademisi Ekonomi asal Universitas Lampung, Usep Syaifudin mengatakan sesuai rilis resmi BPS pada 2 Februari 2026. Lampung tercatat sebagai salah satu provinsi dengan inflasi terendah di Indonesia pada tahun 2025 (YoY), yaitu sebesar 1,90%.
Hal ini berarti daya beli masyarakat lebih stabil dan tidak terlalu terkikis oleh lonjakan harga kebutuhan pokok.
“Hal ini positif untuk ekonomi kerakyatan. Karena daya beli masyarakat akan lebih kuat dan belanja konsumsi jelang Ramadan–Idul Fitri cenderung akan terjaga tanpa tekanan inflasi yang tajam,” katanya.
Baca Juga:
Waspadai Core Inflation di Lampung
Meningkatnya Permintaan
Kemudian ia menceritakan, secara historis, konsumsi rumah tangga meningkat selama periode Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Ini karena meningkatnya permintaan terhadap barang-barang kebutuhan pokok, makanan, pakaian, dan layanan jasa. Terutama di sektor ritel dan kuliner.
“Saya memprediksi hal ini juga akan terjadi pada Ramadan ini. Hal ini tentu akan meningkatkan perputaran ekonomi, terutama UMKM,” katanya.
Selanjutnya ia melihat bank-bank di Lampung menunjukkan tren kinerja positif sebelum Ramadan. Pada bulan Ramadan, permintaan layanan perbankan prediksinya akan meningkat. Misalnya transaksi digital, penarikan tunai, dan kredit konsumsi. Kondisi ini karena aktivitas ekonomi makin tinggi di bulan suci Ramadan.
“Secara umum, Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia harus menjaga stabilitas harga, daya beli, likuiditas keuangan, dan keberlanjutan usaha rakyat selama Ramadan – Idul Fitri,” katanya.
Kemudian ia juga menyampaikan beberapa langkah yang perlu pemerintah lakukan. Pertama, memastikan ketersediaan komoditas pokok kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri sehingga stabilitas harga terjaga. Bila perlu lakukan operasi pasar.
Kedua, percepat realisasi belanja pemerintah daerah. Khususnya yang langsung menggerakkan ekonomi rakyat. Misalnya, padat karya, melibatkan UMKM, logistik, dan transportasi lokal.
Ketiga, perlu juga mendorong bank daerah seperti Bank Lampung dan BPR/BPRS untuk memberikan layanan kredit UMKM secara cepat dengan bunga bersaing.








