Jakarta (Lampost.co) — HARGA emas dunia kembali tertekan dan menyentuh titik terendah dalam sebulan terakhir. Tekanan muncul setelah bank sentral Amerika Serikat mengambil sikap hati-hati terkait suku bunga. Pasar langsung merespons keputusan The Fed yang menahan suku bunga acuan. Di saat yang sama, dolar AS justru menguat dan mempersempit ruang kenaikan emas.
Harga emas spot turun tajam 3,73% ke level US$ 4.813,88 per ons troi saat perdagangan berlangsung. Sepanjang sesi, harga sempat menyentuh level terendah sejak awal Februari. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga melemah. Harga ditutup turun 3,68% ke posisi US$ 4.823,9 per ons troi.
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Kondisi itu membuat emas semakin mahal bagi investor global yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan emas dari pasar internasional ikut melemah. Tekanan pun semakin dalam dalam waktu singkat. Di sisi lain, sikap The Fed menambah beban bagi pasar emas.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan pihaknya masih menunggu kepastian kondisi ekonomi. Sebab, ketidakpastian global, termasuk konflik Iran, membuat proyeksi ekonomi menjadi tidak jelas. Ia memilih menjaga kebijakan tetap stabil.
Sinyal tersebut tidak cukup kuat bagi pelaku pasar. Investor sebelumnya berharap ada petunjuk penurunan suku bunga dalam waktu dekat. “Powell menegaskan The Fed masih ‘menepi’. Sinyal dovish yang disampaikan terlalu lemah untuk mengangkat pasar,” ujar trader logam independen Tai Wong.
Menurut Wong, pasar kehilangan dorongan untuk reli dalam jangka pendek. Harapan investor terhadap stimulus moneter belum terpenuhi. Meski harga turun tajam, Wong melihat pelemahan ini bersifat teknikal. Untuk itu, tren jangka panjang emas masih memiliki peluang menguat.
Aset Safe Haven
Secara umum, emas sebagai aset safe haven saat kondisi global tidak pasti. Namun, daya tarik emas menurun saat suku bunga tinggi. Investor cenderung beralih ke instrumen berbunga yang memberikan imbal hasil. Kondisi ini membuat emas kehilangan keunggulan.
Tekanan tambahan datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Departemen Tenaga Kerja melaporkan kenaikan harga produsen pada Februari. Data tersebut melampaui ekspektasi pasar. Kenaikan juga berpotensi berlanjut seiring dampak konflik geopolitik.
Konflik Iran yang berlangsung hampir tiga pekan juga belum mereda. Bahkan, eskalasi meningkat setelah laporan serangan ke ladang gas Pars. Iran merespons dengan ancaman terhadap fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk. Risiko gangguan pasokan energi global pun meningkat.
Harga minyak dunia ikut terdorong naik akibat situasi tersebut. Minyak Brent bertahan di atas US$ 100 per barel. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi global. Tekanan itu membuat bank sentral semakin berhati-hati dalam mengambil kebijakan.
Selain emas, logam mulia lain juga bergerak variatif. Harga perak turun tipis 0,03% ke US$ 75,35 per ons troi. Paladium ikut melemah 0,03% ke level US$ 1.484,55 per ons troi. Sementara itu, platinum justru naik tipis 0,01% ke US$ 2.024,6 per ons troi. Pergerakan itu menunjukkan pasar logam mulia masih penuh tekanan. Investor terus mencermati arah kebijakan The Fed dan dinamika global.








