• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Jumat, 20/03/2026 12:59
Jendela Informasi Lampung
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Jendela Informasi Lampung
Home Ekonomi dan Bisnis

Likuiditas Rp200 Triliun Tak Menggigit, Purbaya Salahkan BI dan Bank

Kondisi itu terjadi meski pemerintah menempatkan dana besar di sistem perbankan.

EffranbyEffran
08/01/26 - 09:12
in Ekonomi dan Bisnis
A A
Menkeu Purbaya

Menkeu Purbaya. (ANT)

ADVERTISEMENT

Jakarta (Lampost.co) — Kebijakan injeksi likuiditas pemerintah senilai Rp200 triliun belum menghasilkan efek sesuai harapan. Pertumbuhan kredit perbankan tetap tertahan di kisaran 7 persen.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, secara terbuka menyinggung peran Bank Indonesia dan perilaku perbankan nasional. Ia menilai transmisi kebijakan ke sektor riil berjalan lambat.

Purbaya mencatat pertumbuhan kredit tidak bergerak signifikan selama enam bulan terakhir. Kondisi itu terjadi meski pemerintah menempatkan dana besar di sistem perbankan.

Ia menepis pandangan Bank Indonesia yang menyebut lemahnya permintaan sebagai penyebab utama. Menurut Purbaya, permintaan kredit sektor riil tetap tersedia.

Purbaya mengakui estimasi awalnya meleset. Ia memperkirakan ekonomi bergerak lebih cepat setelah gelontoran dana.

Ketidaksinkronan Fiskal dan Moneter Jadi Sorotan

Purbaya menilai terdapat perbedaan ritme kebijakan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. “Perbedaan persepsi soal waktu dampak kebijakan bisa menghambat efektivitas,” kata dia.

Ia tidak membeberkan detail perbedaan tersebut. Namun, ia menegaskan masalah itu bukan konflik kebijakan.

Purbaya mengklaim koordinasi kedua lembaga membaik dalam sebulan terakhir. Ia optimistis pertumbuhan ekonomi 2026 bisa menembus 6 persen.

Bank Lebih Nyaman Parkir Dana

Purbaya menolak anggapan undisbursed loan tinggi mencerminkan lemahnya permintaan kredit. Ia justru menilai bank memilih jalur aman.

Menurutnya, bank lebih senang membeli surat berharga dengan imbal hasil pasti. Sebab, penyaluran kredit dianggap berisiko lebih tinggi.

“Dunia usaha masih aktif mencari pembiayaan. Namun, bank sering menahan penyaluran pinjaman,” ujar dia.

Kasus Dunia Usaha Jadi Bukti Lapangan

Dia menyinggung laporan Satgas P2SP yang menerima keluhan pengusaha. Salah satunya datang dari PT Mayer Indah Indonesia.

Perusahaan tersebut kesulitan memperoleh pembiayaan, termasuk dari bank Himbara. Padahal perusahaan itu berdiri sejak 1973.

Purbaya yakin sumbatan kredit akan terbuka setelah penempatan dana pemerintah di lima bank Himbara.

Dia menilai rasio undisbursed loan relatif stabil setiap tahun. Ia menolak indikator itu menjadi alasan kredit seret.

Ia merujuk pengalaman pandemi 2020–2021. Penempatan dana negara saat ini mendorong kredit tumbuh dua digit. “Saat ekonomi bergerak, permintaan kredit akan mengikuti,” kata dia.

Dunia Usaha Masih Terbebani Bunga Tinggi

Apindo Kritik Cost of Fund

Analis Apindo Ajib Hamdani menilai kebijakan likuiditas belum menekan biaya dana. Suku bunga kredit masih di level 8,96 persen. Padahal BI rate sudah turun ke 4,75 persen. Kondisi itu menahan ekspansi usaha. Survei Apindo menunjukkan 43,05 persen pengusaha mengeluhkan bunga kredit tinggi.

Tiga Masalah Struktural Kredit

Ajib mengidentifikasi biaya modal tinggi sebagai masalah utama. Indonesia tertinggal dari Vietnam, Malaysia, dan Thailand.

“Masalah kedua datang dari daya beli masyarakat yang melemah. Indeks Keyakinan Konsumen belum kembali ke level awal tahun,” kata Ajib.

Masalah ketiga terkait efisiensi layanan keuangan. Skor Indonesia masih di bawah negara kawasan.

Dorongan Stimulus Harus Dua Arah

Apindo mendorong stimulus menyasar sisi penawaran dan permintaan. Pemerintah perlu menekan biaya hidup masyarakat. Di sisi lain, biaya berbisnis harus dipangkas.

Energi, logistik, dan pembiayaan perlu lebih kompetitif. “Pentingnya bauran fiskal, moneter, dan regulasi. Tujuannya menciptakan kredit sehat dan terjangkau,” katanya.

Tags: bank cari amanbank indonesiakredit perbankan stagnanlikuiditas perbankanpertumbuhan kredit 2026Purbaya Yudhi Sadewaundisbursed loan
ShareSendShareTweet
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Skema WFH

Pemerintah Siapkan Skema WFH Pasca Lebaran 2026 Guna Tekan Konsumsi BBM

byNana Hasan
20/03/2026

Jakarta (Lampost.co) - Pemerintah Indonesia tengah merancang kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) secara fleksibel. Langkah strategis...

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH Pasca Lebaran 2026 Demi Hemat BBM

byNana Hasan
20/03/2026

Jakarta (Lampost.co) - Pemerintah segera menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Langkah strategis ini menyasar aparatur...

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Pemerintah Kaji WFH Massal Demi Tekan Konsumsi BBM dan Cegah Krisis Energi

byNana Hasan
20/03/2026

Jakarta (Lampost.co) - Pemerintah Indonesia tengah serius mempertimbangkan penerapan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Langkah strategis...

Berita Terbaru

Warga Muhammadiyah Lampung Tetap Jaga Persatuan dan Perdamaian
Lampung

Warga Muhammadiyah Lampung Tetap Jaga Persatuan dan Perdamaian

byWandi Barboyand1 others
20/03/2026

Bandar Lampung (Lampost.co): Warga Muhammadiyah di Provinsi Lampung tetap menjaga persatuan dan perdamaian saat merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026...

Read moreDetails
rieke diah pitaloka

Kondisi Nikita Mirzani Drop di Rutan: Rieke Diah Pitaloka Beri Dukungan Moral

20/03/2026
showcase1 (20MAR)

Antisipasi Keterlambatan Sandar Kapal, ASDP Bakauheni Perkuat Koordinasi Lintas Sektoral

20/03/2026
Niall Horan

Niall Horan Persembahkan Lagu “End Of An Era” Untuk Mendiang Liam Payne

20/03/2026
Skema WFH

Pemerintah Siapkan Skema WFH Pasca Lebaran 2026 Guna Tekan Konsumsi BBM

20/03/2026
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.