Bandar Lampung (Lampost.co) — Kondisi perekonomian Indonesia kini tengah menghadapi tantangan serius seiring melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah. Padahal, kelompok itu merupakan komposisi terbesar dalam struktur penduduk sehingga penurunannya berdampak luas terhadap perputaran ekonomi.
Ekonom Universitas Lampung, Marselina Djayasinga, menjelaskan tren penurunan daya beli kelas menengah menandakan kondisi ekonomi nasional sedang tidak baik.
“Sekarang fenomenanya memang daya beli golongan menengah mulai menurun. Artinya, kondisi ekonomi sekarang sedang tidak baik-baik saja. Komposisi penduduk terbesar di golongan menengah dan akan menghambat perekonomian kalau daya beli mereka turun,” ujar Marselina.
Ia menekankan, fenomena tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, konsumsi masyarakat menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, khususnya dari segmen menengah yang selama ini menopang pasar domestik.
Menurutnya, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda. Ia menilai kalangan tersebut rentan bersikap konsumtif karena terpengaruh tren dan gaya hidup digital.
“untuk itu, anak muda khususnya perlu mendapatkan edukasi soal pengelolaan keuangan. Terkait pola pengeluaran saat ini cenderung konsumtif dan fomo. Pola ini meracuni tata pengelolaan keuangan,” kata dia.
Ia menambahkan, kondisi sosial yang penuh tekanan juga mendorong pengeluaran ke arah non primer. “Tingkat stres di masyarakat saat ini cenderung tinggi, misalnya dari kompetisi di pekerjaan sehingga mereka perlu healing. Banyak kebutuhan yang sifatnya tersier yang keluar,” katanya.
Fenomena tersebut menyebabkan perilaku menabung menjadi terabaikan. Banyak anak muda lebih memilih menghabiskan pendapatan untuk kebutuhan non prioritas daripada menyisihkan dana untuk tabungan atau investasi.
“Mengurangi menabung, takut kehilangan mood, dan kehilangan mode. Tren itu tanpa sadar membuat lebih banyak pengeluaran untuk gengsi,” tuturnya.
Ia mengingatkan pola hidup konsumtif tersebut harus segera berubah, terutama di tengah kondisi harga kebutuhan yang terus meningkat.
“Lifestyle itu harus segera berubah karena kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Daya beli turun dan harga barang naik, sehingga pola ini harus berubah,” pungkasnya.








