Jakarta (Lampost.co) — Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memicu perhatian publik. Pada akhir bulan lalu, IHSG sempat mengalami trading halt selama dua hari berturut-turut setelah pengumuman dari MSCI. Tekanan jual membuat indeks merosot lebih dari 8 persen dalam waktu singkat.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan guncangan itu hanya bersifat sementara. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan tidak menunjukkan masalah mendasar.
Ia juga mengingatkan pentingnya pembenahan struktur pasar. Menurutnya, otoritas bursa perlu segera membersihkan saham-saham yang tidak memiliki fundamental kuat.
“Ini jelas shock sementara, karena fundamental kita enggak masalah. Kalau yang jatuh saham-saham gorengan kan sudah saya ingatkan dari dulu, bersihkan bursa dari saham gorengan tapi kan yang besar-besar, masih ada saham-saham yang bluechip itu kan naiknya belum terlalu tinggi,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Pernyataan tersebut membuka kembali diskusi soal praktik penggorengan saham yang terus berulang di berbagai era.
IHSG Terkoreksi, Fundamental Tetap Dijaga
Penurunan IHSG kali ini terjadi setelah perubahan komposisi indeks global. Investor asing melakukan penyesuaian portofolio secara agresif. Aksi jual serentak memicu tekanan besar dalam waktu singkat.
Namun, pemerintah melihat situasi itu sebagai koreksi teknikal. Purbaya menekankan indikator makroekonomi tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan neraca perdagangan masih berada dalam jalur terkendali.
Ia mendorong pelaku pasar untuk fokus pada saham berfundamental kuat. Emiten dengan kinerja solid dinilai mampu bertahan dalam kondisi volatil.
Saham Gorengan dan Risiko Sistemik
Praktik mengerek harga tanpa dukungan kinerja bisnis bukan fenomena baru. Skema itu biasanya memanfaatkan sentimen dan promosi berlebihan. Harga naik cepat, lalu anjlok ketika minat beli menghilang.
Investor ritel sering menjadi korban terakhir dalam rantai transaksi. Mereka membeli saat harga sudah tinggi. Ketika koreksi datang, kerugian sulit terhindarkan. Fenomena itu mengingatkan dunia pada salah satu gelembung saham terbesar dalam sejarah.
Skandal South Sea 1720: Awal Mula Pump and Dump
Pada tahun 1720, Inggris menghadapi krisis keuangan akibat perang panjang. Pemerintah lalu membentuk South Sea Company untuk mengelola utang negara.
Perusahaan itu mendapat hak monopoli perdagangan di Amerika Selatan. Publik percaya peluang keuntungan sangat besar. Pemerintah memberi dukungan penuh sehingga kepercayaan meningkat tajam.
Saham perusahaan langsung diburu berbagai kalangan. Bangsawan, anggota parlemen, hingga Raja George I ikut membeli sahamnya.
Harga yang semula sekitar 100 pound melonjak drastis hingga menembus 1.000 pound. Kenaikan itu tidak tertopang kinerja nyata. Wilayah dagang yang dijanjikan ternyata berada di bawah kekuasaan Spanyol.
Manajemen perusahaan menutup fakta tersebut dari publik. Mereka terus memompa optimisme melalui promosi agresif.
Euforia Berujung Kehancuran
Saat euforia mencapai puncak, para petinggi perusahaan diam-diam menjual saham mereka. Mereka memahami kondisi bisnis tidak seindah narasi yang beredar.
Ketika investor mulai meragukan sumber keuntungan, kepercayaan runtuh. Kepanikan menyebar cepat. Harga saham jatuh bebas dalam waktu singkat.
Ribuan orang kehilangan tabungan hidupnya. Banyak keluarga bangsawan dan pengusaha bangkrut dalam semalam.
Salah satu korban terkenal ialah Isaac Newton. Ia sempat menikmati keuntungan awal. Namun, ia kembali membeli saat harga sudah terlalu tinggi. Ia kemudian menanggung kerugian besar. Newton pernah berkata ia mampu menghitung pergerakan benda langit, tetapi tidak kegilaan manusia.
Pelajaran untuk Pasar Modern
Skandal tersebut mendorong penyelidikan besar-besaran. Pemerintah menemukan praktik suap dan manipulasi pasar. Sejumlah pejabat menerima hukuman berat.
Peristiwa itu tercatat sebagai salah satu gelembung saham pertama di dunia. Pola serupa terus muncul dalam berbagai bentuk hingga era modern.
Pernyataan Purbaya menjadi pengingat keras bagi pelaku pasar Indonesia. Bursa yang sehat membutuhkan transparansi dan disiplin pengawasan.
Jika otoritas bertindak tegas, kepercayaan investor dapat terjaga. Pasar modal yang bersih akan memperkuat stabilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang.








