Jakarta (Lampost.co)— Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa setelah tekanan eksternal dan domestik terus membayangi pasar keuangan. Pada penutupan, rupiah turun 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global.
Baca juga: Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Prabowo Kumpulkan Pejabat Ekonomi di Istana
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan pelemahan rupiah pemicunya kombinasi sentimen global dan domestik. Selain kenaikan harga energi dunia, pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
“Pasar masih menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia ikut menekan ruang fiskal pemerintah karena beban subsidi energi berpotensi meningkat,” ujar Rully di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Harga minyak dunia terus naik akibat terganggunya pasokan global menyusul konflik geopolitik di Timur Tengah. Persediaan minyak komersial dunia dilaporkan menurun cepat, sementara gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap APBN semakin besar, terutama jika pemerintah tetap menahan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah pelemahan rupiah.
“Dengan asumsi kurs APBN Rp16.500 per dolar AS, pelemahan rupiah bisa meningkatkan beban subsidi secara signifikan,” katanya.
Selain faktor minyak dunia, rupiah juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat yang terus menanjak. Yield obligasi AS tenor 10 tahun kini berada di level tinggi seiring meningkatnya ekspektasi inflasi dan sikap agresif bank sentral AS dalam menjaga suku bunga tinggi.
Kondisi tersebut membuat aset keuangan AS semakin menarik bagi investor global sehingga aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai berkurang.
“Selisih yield obligasi Indonesia dan AS semakin tipis sehingga minat investor asing terhadap obligasi pemerintah mulai menurun,” ujar Rully.
Pelaku pasar kini memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan menahan arus keluar modal asing.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke posisi Rp17.719 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.666 per dolar AS.
Di tengah tekanan global yang masih tinggi, pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta mengantisipasi dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian nasional.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update