UMKM Ramai Tinggalkan Shopee dan TikTok Shop, Ada Apa?

Nilai transaksi digital Indonesia berpotensi tetap tumbuh sepanjang 2026.

Editor Effran
Selasa, 19 Mei 2026 10.21 WIB
UMKM Ramai Tinggalkan Shopee dan TikTok Shop, Ada Apa?

Jakarta (Lampost.co) – Fenomena pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mulai meninggalkan marketplace besar seperti Shopee dan TikTok Shop memicu perhatian publik. Kenaikan biaya logistik, potongan komisi penjualan, hingga persaingan harga menjadi alasan utama para seller mulai mencari jalur penjualan lain.

Meski begitu, pemerintah memastikan tren perpindahan seller tersebut belum mengancam pertumbuhan industri e-commerce nasional. Nilai transaksi digital Indonesia berpotensi tetap tumbuh sepanjang 2026.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, mengatakan pertumbuhan perdagangan digital tidak hanya bergantung pada satu atau dua marketplace besar.

“Transaksi digital nasional masih akan terus tumbuh. Nilai transaksi e-commerce terpengaruh banyak faktor, bukan hanya perpindahan seller dari marketplace,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

 UMKM Mulai Cari Kanal Penjualan Lebih Menguntungkan

Dalam beberapa bulan terakhir, banyak pelaku UMKM mulai mengurangi aktivitas di marketplace besar. Sebagian seller memilih berjualan melalui media sosial, website pribadi, hingga aplikasi pesan instan.

Kondisi tersebut muncul setelah biaya operasional penjualan online meningkat. Banyak seller mengeluhkan kenaikan ongkos logistik dan potongan komisi platform yang semakin besar.

Selain itu, persaingan harga yang ketat membuat margin keuntungan UMKM semakin menipis. Pelaku usaha akhirnya memilih kanal penjualan yang lebih efisien dan fleksibel.

Iqbal menilai langkah tersebut merupakan strategi bisnis yang wajar dalam ekosistem digital. “Pelaku UMKM tentu akan memilih kanal penjualan yang paling efisien dan menguntungkan bagi usaha mereka,” katanya.

 Pemerintah Soroti Keseimbangan Ekosistem Digital

Kementerian Perdagangan terus berkoordinasi dengan berbagai platform marketplace dan pemangku kepentingan. Pemerintah ingin menjaga ekosistem perdagangan digital tetap sehat dan kompetitif.

Menurut Iqbal, keseimbangan antara platform, sektor logistik, dan UMKM menjadi faktor penting agar industri digital terus berkembang. “Kami mendorong prinsip transparansi dan praktik usaha yang adil agar UMKM tidak terbebani berlebihan,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong marketplace membuka ruang dialog dengan seller. Langkah tersebut penting agar hubungan platform dan pelaku usaha tetap kondusif.

 Strategi Multichannel Jadi Pilihan Baru Seller

Di tengah perubahan pola bisnis digital, banyak UMKM kini mulai menerapkan strategi multichannel dan omnichannel. Seller tidak lagi bergantung pada satu marketplace saja.

Sebagian pelaku usaha memanfaatkan kombinasi marketplace, media sosial, live shopping, hingga toko offline untuk memperluas pasar.

Pemerintah mendukung langkah tersebut karena mampu memperkuat daya tahan UMKM di tengah persaingan digital yang semakin agresif.

Pendekatan multichannel juga membantu seller menjaga stabilitas penjualan saat performa salah satu platform menurun.

 Shopee dan TikTok Shop Masih Kuasai Pasar

Meski banyak seller mulai berpindah kanal, dominasi marketplace besar masih sangat kuat di Indonesia. Laporan Momentum Works dalam Ecommerce in Southeast Asia 2026 menyebut Indonesia tetap menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara.

Nilai gross merchandise value (GMV) e-commerce Indonesia sepanjang 2025 bisa mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999,4 triliun. Angka tersebut naik daripada 2024 yang berada di level US$56,5 miliar.

Shopee masih memimpin pasar e-commerce Indonesia dengan GMV sekitar US$31,2 miliar atau setara Rp539,7 triliun. Platform itu menguasai sekitar 54 persen pangsa pasar nasional.

Sementara gabungan TikTok Shop dan Tokopedia menempati posisi kedua dengan pangsa pasar sekitar 38 persen atau GMV mencapai US$21,9 miliar.

Lazada berada di posisi berikutnya dengan pangsa pasar 6 persen. Adapun Blibli mencatat kontribusi sekitar 3 persen terhadap total transaksi e-commerce nasional.

 Pertumbuhan E-Commerce Tetap Positif

Analis menilai industri e-commerce Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Jumlah pengguna internet yang terus meningkat menjadi salah satu faktor pendorong utama.

Selain itu, tren belanja online di kota tier dua dan tier tiga terus mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membantu menjaga pertumbuhan transaksi digital nasional.

Pergeseran seller dari marketplace besar lebih mencerminkan adaptasi strategi bisnis daripada penurunan minat terhadap e-commerce.

Dengan pasar digital yang terus berkembang, Indonesia akan tetap menjadi salah satu kekuatan utama industri e-commerce Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI