ALUNAN uning-uningan gondang Batak membahana di GSG Sinarta, Jalan RA Basyid, Gang H Kapten Subli No.21/90B, Labuhandalam, Kecamatan Tanjungsenang, Bandar Lampung, Sabtu (17/10) siang. Pesta pernikahan Marta Simaremare bersama Binsar Papaga berlangsung meriah dalam balutan adat na gok. Segenap hadirin yang mengenakan masker bersukacita menikmati musik dan kehangatan suasana.
Rombongan keluarga yang hendak memberi ulos atau mangulosi, berbaris rapi. Masing-masing membawa ulos yang telah dimasukkan plastik bening. “Parmusik nami, bahen hamu ma lagu Rap,” kata perwakilan keluarga.
Sesuai permintaan, vokalis band langsung menyanyikan lagu Rap. Rombongan pun bergerak maju mendekati pengantin sambil manortor. Tiba di hadapan pengantin, orang-orang yang mangulosi menaruh ulos di meja depan pengantin.
Prosesi mangulosi di kenormalan baru ini berbeda dengan sebelumnya. Mangulosi sebelum pandemi dilakukan secara langsung dengan memakaikan ulos kepada pengantin. Kini, ulos hanya diletakkan di meja sebagai wujud taat protokol kesehatan.
Adaptasi normal baru juga tampak jelas pada prosesi manumpaki atau memberikan uang sukacita. Lazimnya, para tamu memasukkan amplop ke wadah besar sambil bersalaman dengan seluruh keluarga pengantin, berikut mempelai di pelaminan. Kini, bagian itu dilakukan sedikit berbeda.
Gondang Batak tetap mengiringi para tamu yang manumpaki. Namun, para tamu hanya manortor, dengan tangan membentuk sembah di dada, sambil melewati jajaran keluarga serta mempelai tanpa berjabat tangan.
Para penari yang mengisi acara juga mengenakan masker selama pesta adat berlangsung. Penyelenggara pesta juga menyediakan nasi kotak bagi tamu yang enggan makan di tempat.
“Awalnya, kami berencana menggelar pesta pernikahan bulan Mei lalu. Namun, karena pandemi baru melanda, kami undur. Dan baru diadakan saat ini, di era new normal dengan menaati protokol kesehatan,” kata mempelai wanita, Marta.
Durasi pesta adat juga dipersingkat yakni pukul 12.00—16.00. Sebelumnya, pesta adat umumnya pukul 12.00—18.30.
Jumlah undangan juga dibatasi agar memenuhi ketentuan physical distancing. “Enggak semua orang bisa diundang karena ketatnya protokol. Saya mohon agar handai tolan maklum atas keadaan saat ini,” ujarnya.
Menurut guru SDN di Lampung Tengah itu, pihaknya telah menjelaskan protokol kepada tamu melalui undangan. Di undangan disebutkan tamu sebaiknya tidak membawa anak-anak dan senantiasa menjaga jarak selama acara.
Seminggu sebelumnya, pada Sabtu (10/10), Selly Novita Sitio dan Juan Situmeang menerima pemberkatan pernikahan di Gereja HKBP Batupuru, Natar, Lampung Selatan. Pasangan itu sempat menunda pernikahan yang awalnya dirancang pada Mei dan baru direalisasikan lima bulan kemudian.
“Karena pandemi, kami pemberkatan dulu. Semoga tahun depan pandemi berakhir dan kami bisa melaksanakan pesta adat,” kata Selly.
Adaptasi Adat
Ketua Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) Lampung, DH Sihotang, mengatakan adat budaya Batak dituntut mampu menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Seluruh rangkaian adat tetap dilakukan namun dengan sejumlah adaptasi.
“Adat tetap dilakukan, tetapi ada beberapa kegiatan yang dikurangi seperti pada mangulosi dan manumpaki. Seluruh prosesi dipadatkan,” kata dia.
Penyesuaian dan pengetatan protokol kesehatan bertujuan untuk menjaga agar pesta adat Batak jangan sampai menjadi klaster penularan Covid-19. Ia mencontohkan pada bagian mangulosi. Kain ulos merupakan simbol kasih dan doa.
“Prosesi mangulosi bermakna sebagai doa dan permohonan kepada Tuhan agar pengantin yang menerima ulos senantiasa mendapat rezeki dan keberkahan melimpah. Pengurangan kegiatan dalam adat Batak di era new normal tidak memengaruhi esensinya,” kata Sihotang.
Pesta adat Batak tetap eksotik di era normal baru. DELIMA NATALIA NAPITUPULU (D3)







