PEMERINTAH perlu segera mengantisipasi adanya potensi lonjakan harga beras menjelang tahun baru.
“Laporan Indeks BURT (Indeks Bulanan Rumah Tangga) menunjukkan harga beras kualitas medium sejak Oktober memang terpantau stabil tinggi di kisaran Rp12.500 per kilogram. Namun, harga ini berpotensi untuk mengalami kenaikan jelang Natal dan Tahun Baru 2021,” kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octani melalui keterangan tertulis, Rabu, 2 Desember 2020.
Selain itu, antisipasi tersebut perlu karena melihat jumlah stok beras akhir tahun ini lebih rendah ketimbang 2019. Tahun ini jumlah sebanyak 1,1 juta ton sedangkan tahun 2019 berjumlah 2,24 juta ton. Ini lebih rendah ketimbang stok beras 2018 sebanyak 2,19 juta ton.
Hal ini berkaca pada akhir 2017 jumlah stok beras hanya 900 ribu ton yang memaksa pemerintah untuk melakukan importasi beras hingga sebanyak 2,25 juta ton di sepanjang tahun 2018 atau sejumlah USD1,03 miliar.
“Berdasarkan data BPS. Peluang berulangnya keadaan seperti itu di tahun 2021 seharusnya ada antisipasi sesegera mungkin. Perhitungan akan impor harus seefektif mungkin untuk menghindari kerugian akibat tingginya harga beras dan panjangnya birokrasi impor,” ujarnya.
Selain masalah stok dan kenaikan harga, pemerintah juga perlu memperhatikan maraknya perilaku proteksionisme akibat pandemi.
Berdasarkan catatan Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), harga beras dunia tercatat mengalami kenaikan. Hal ini akibat adanya stockpiling behavior atau perilaku menimbun yang dilakukan oleh masing-masing BUMN pangan negara-negara di dunia. Kemudian, adanya penutupan ekspor untuk memenuhi produksi domestik setiap negara.
“Laporan Indeks BURT pada November 2020 mencatat tiap keluarga di Indonesia dapat menghemat pengeluaran hingga Rp224 ribu. Syaratnya, harga pangan Indonesia sama terjangkaunya dengan harga di negara-negara di Asia Tenggara. Misal, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura,” kata Galuh.
Produksi Beras
Data FAO 2020 juga memprediksi bahwa produksi beras dunia mencapai 509,2 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 1,7% dari tahun sebelumnya. Pasokan beras dunia lebih dari cukup untuk menutupi permintaan global dengan rasio stok terhadap penggunaan 35,3%.
Data Kementerian Pertanian 2020 menunjukkan produksi beras nasional diperkirakan berjumlah sekitar 16,8 juta ton atau lebih rendah 9,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, melanjutkan tren penurunan sejak 2018.
“Meskipun ketersediaan lebih dari cukup untuk menutupi permintaan domestik di semester pertama dengan surplus 6,4 juta ton, terdapat kekhawatiran pasokan beras menjelang akhir tahun dan awal tahun depan karena musim kemarau biasanya hanya menyumbang 35% untuk produksi tahunan, berdasarkan data WFP 2020,” pungkasnya. (MI)





