Jakarta (Lampost.co) – Sebanyak 400 musisi Inggris menyerukan perlindungan hak cipta dari ancaman teknologi AI yang terus berkembang pesat.
Poin Penting
- 400 musisi Inggris, termasuk Coldplay, Dua Lipa, dan Elton John, menandatangani surat terbuka kepada Perdana Menteri Inggris.
- Mereka menuntut revisi undang-undang Hak Cipta agar melindungi karya seni dari penyalahgunaan AI.
- Surat disampaikan menjelang pemungutan suara di House of Lords pada 12 Mei 2025, terkait amandemen regulasi AI.
Coldplay, Dua Lipa, dan Elton John termasuk di antara seniman yang menandatangani surat terbuka ke Perdana Menteri Inggris. Surat itu menuntut amandemen undang-undang Hak Cipta untuk melindungi karya seni dari eksploitasi kecerdasan buatan. Musisi khawatir karya mereka digunakan tanpa izin dalam proses pelatihan model AI komersial.
Baca juga : Sakurazaka46 Rilis Album “Addiction” dan Siap Memperluas Pengaruh Internasional
Mereka meminta pemerintah transparan dalam mengatur penggunaan data kreatif yang dilindungi hukum. Surat ini muncul menjelang pemungutan suara penting di House of Lords pada 12 Mei 2025. Hasil pemungutan itu akan menentukan masa depan sistem lisensi dan regulasi pelatihan AI.
Pemerintah Inggris hingga kini belum mendukung amandemen yang diajukan oleh seniman tersebut. Alih-alih mengesahkan perubahan, mereka memilih melanjutkan proses konsultasi yang belum menghasilkan kepastian.
Dalam surat itu, Elton John menegaskan pentingnya Hak Cipta bagi keberlangsungan industri kreatif nasional. “Hak cipta menopang hidup 2,4 juta orang di Inggris,” tulis Elton dalam akun Instagram resminya.
Ia menambahkan bahwa para seniman tidak menolak kemajuan teknologi, namun tetap menginginkan keadilan hukum.
Menurut mereka, industri kreatif Inggris justru pelopor dalam mengadopsi berbagai inovasi sejak awal.
Meski begitu, mereka menilai pemerintah harus melindungi warga, termasuk pelaku seni dari penyalahgunaan teknologi.
Amandemen yang di usulkan akan mewajibkan pengembang AI membuka data sumber yang mereka gunakan.
Transparansi ini akan memungkinkan perizinan yang adil antara pembuat AI dan seniman asli.
Paul McCartney dari The Beatles menjadi musisi pertama yang bersuara keras soal ancaman AI terhadap karya musik.
Ia menekankan bahwa banyak pencipta lagu kehilangan haknya karena sistem yang belum di perbarui. “Kami butuh perlindungan. Itu tugas negara,” tegas McCartney pada pernyataan awal tahun ini.
Jimmy Page dari Led Zeppelin menyebut praktik AI tanpa izin bukan inovasi, tapi eksploitasi terang-terangan.
Sementara Brian May dari Queen menilai masalah ini sudah terlanjur membesar dan sulit berhenti. “Pencurian sudah terjadi. Masa depan sudah berubah,” ujar May menutup pernyataannya.
Kini, dunia menantikan keputusan Inggris soal Hak Cipta dan dampaknya terhadap masa depan seni dan AI.