Jakarta (Lampost.co) – Konflik antara Inara Rusli dan Wardatina Mawa kini memasuki babak baru yang semakin memanas. Inara mulai berani melontarkan sindiran menohok melalui media sosial pribadinya baru-baru ini.
Poin Penting
- Inara Rusli menanggapi komentar netizen melalui Instagram Story pada 23 Februari 2026.
- Inara menyinggung perbedaan nasib terkait nafkah finansial dari mantan suami.
- Ia mengkritik penggunaan cadar jika hanya untuk merendahkan orang lain.
- Inara menyebut tindakannya sebagai bentuk refleksi dan “proyeksi diri” atas masa lalu.
Awalnya, warganet membanjiri kolom komentar Inara dengan berbagai nada menyudutkan. Mereka terus membandingkan kepribadian Inara dengan sosok Mawa secara terang-terangan.
Baca juga : Jawaban Santai Wardatina Mawa Soal Sindiran Inara Rusli Terkait Saksi Baru
Melalui unggahan Instagram Story pada Selasa, 23 Februari 2026, Inara menanggapi tudingan tersebut. Ia langsung mengungkit masalah tanggung jawab finansial sang suami dengan kalimat tajam.
Sentilan Menohok Inara Rusli Mengenai Cadar dan Etika
“Saya dulu enggak dikasih nafkah sampai turun putusan pengadilan, saya berjuang sendiri. Silahkan tanya yang bersangkutan, masih dapat nafkah apa benar-benar berjuang sendiri sampai hari ini?,” tulis Inara Rusli.
Perseteruan ini kian meruncing saat netizen menyinggung keputusan Inara melepas cadar. Sebaliknya, netizen memuji Mawa yang hingga kini masih tetap istiqomah bercadar.
Inara lantas memberikan balasan tegas terkait simbol keagamaan tersebut. Menurutnya, cadar tidak sepatutnya menjadi alat untuk merendahkan orang lain secara semena-mena.
“Cadar buat kosmetik doang untuk nunjukkin diri lebih baik dari orang dengan cara nyinyir dan kufur nikmat sama suami yang masih nafkahin emang boleh?? Malah tambah rusakkin nilai cadar,” ungkapnya dengan nada tegas.
Selanjutnya, Inara memilih untuk merendah dan menyebut dirinya sebagai sosok fakir ilmu. Ia menantang pihak lain untuk mempraktikkan ilmu agama secara benar dalam kehidupan.
“Kan lebih baik dari aku ilmunya? Praktekin aja dulu yang bener kayak gimana. Biar aku bisa ambil contoh yang baik buat selesain masalah yang benar dalam Islam itu seperti apa. Bukan malah ngikutin jejak aku yang fakir ilmu ini,” lanjutnya.
Meskipun terlihat sangat emosional, Inara segera memberikan klarifikasi mengenai luapan kekesalannya. Ia mengaku sedang melakukan refleksi mendalam atas kesalahan masa lalunya sendiri.
“Semua kekesalan yang aku sampaikan sedari kemarin bukan ditujukan untuk beliau tapi projecting diri aku sendiri di masa lalu, menyesalkan perbuatanku di masalalu,” ungkapnya.
Akhirnya, Inara berharap polemik rumah tangga ini menjadi pelajaran bagi para pria. Ia menekankan pentingnya peran kepala keluarga dalam mendidik dan memberi nafkah.
“Semoga ini jadi pelajaran berharga buat para suami agar lebih peka dan tidak lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin dan pendidik dalam rumahtangga,” tutup Inara Rusli.








