Bandar Lampung (Lampost.co)–Dit Polairud Polda Lampung menangkap enam terduga pengguna bom ikan ilegal di perairan Lampung, saat hendak menangkap ikan.
Kasubdit Gakkum, AKBP Rahmadi Asbi mengungkapkan, jumlah tersebut terdiri dari 5 nelayan penangkap ikan dan 1 penjual bahan peledak. Berdasarkan penyelidikan, para pelaku melakukan pengeboman di wilayah perairan dan pesisir Bandar Lampung, Pesawaran, serta Lampung Selatan.
“Kegiatan penankapan ikan menggunakan bahan peledak tersebut sangat membahayakan terhadap kelangsungan hidup biota laut,” ungkapnya, Selasa, 16 Juli 2024.
Baca Juga: Akibat Cuaca Ekstrim Nelayan di Pesibar Tak Bisa Melaut
Dari tangan pelaku, polisi menyita 22 botol bahan peledak siap pakai untuk menangkap ikan. Kemudian polisi juga menyita 176 unit detonator dari kapal milik para tersangka.
“Lima pelaku pengeboman tertangkap saat sedang hendak menangkap ikan menggunakan bom,” kata dia.
Sementara seorang pelaku lainnya, inisial JN, berperan sebagai kurir yang bertugas menjual dan memasarkan bahan peledak. Dari tangan tersangka polisi mengamankan 23 kilogram potasium yang merupakan bahan utama membuat bom ikan.
“JN ternyata terlibat dalam 4 kasus yang Polairud tangani,” jelas Rahmadi.
Terkait hal itu, pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat khususnya kalangan nelayan agar menangkap ikan secara legal. Sebab menangkap ikan menggunakan bom itu ilegal dan membayakan ekosistem laut.
“Kami mengimbau kepada masyarakat khususnya kelompok nelayan untuk mengikuti aturan yang berlaku dalam berkegiatan,” imbaunya.
Atas perbuatannya para pelaku dijerat Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12/1951 tentang penyalahgunaan senjata api atau bahan peledak. Ancamannya hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau penjara sementara setinggi-tingginya 20 tahun.
Penangkapan ikan dengan bahan peledak adalah metode penangkapan ikan yang dapat merusak terumbu karang. Selain itu, sangat berbahaya bagi nelayan itu sendiri karena bom bisa meledak sebelum waktunya.








